ASAL-USUL KATA TUHAN

Posted by mochihotoru | Posted in , , | Posted on 5:45:00 PM

I. Asal kata Tuhan
Pada mulanya kata tuhan hanyalah 'pelesetan' dari kata tuan; dan ini terjadi karena kesalahan seorang pendeta militer Belanda bernama Dr. Melchior Leydekker (1642-1712) pada tahun 1678. Peristiwa itu diterangkan secara menarik oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984). Ia menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi h yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya hembus, hempas, hasut, dan tuhan.

Alif mengatakan bahwa gejala itu timbul karena pengaruh lafal daerah, rasa tak percaya pada diri sendiri, dan yang sangat penting adalah yang berkaitan dengan penjajahan bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Indonesia. "Lingua Franca [Basantara] Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa, antara lain Portugis dan Belanda, sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Kristen, agama umum yang dianut oleh bangsa-bangsa Eropa," tulis Alif.

Lebih lanjut Alif mengatakan bahwa peralihan tuan menjadi tuhan, sepenuhnya bersumber dari kepercayaan mereka atas Yesus Kristus atau Isa Al-Masih. Mereka biasa menyebut Yesus dengan panggilan "tuan", yang dalam bahasa Yunani adalah 'Kyrios', dalam bahasa Portugis 'senor', dalam bahasa Belanda 'heere', dalam bahasa Prancis 'seigneur', dan dalam bahasa Inggris 'lord'.

Perhatikan kutipan berikut ini:
Sebutan Tuan bagi Yesus Kristus berasal dari surat-surat Paulus, orang Tarsus (Turki), yang menggunakan bahasa Yunani kepada bangsa Yahudi, Romawi, dan Yunani di daerah Hellenisme. Pada setiap akhir suratnya, Paus selalu menyebut
Yesus Kristus sebagai Tuan: "Semoga rahmat Yesus Kristus Tuan kita menyertai roh kita."

Kalimat diatas, dalam bahasa Portugis, berbunyi: "A graca de mosso senhor Jesus Cristo seja com ovosso espiritu."

Kalimat diatas, dalam bahasa Belanda berbunyi: "De genade van onzen heere Jezus Christus zij met uw geest."
Kalimat diatas, dalam bahasa Prancisnya, berbunyi: "Que la grace de notre seigneur Jesus-Christ soit avec votre esprit."
Kalimat diatas, dalam bahasa Inggris, berbunyi: "The grace of or lord Jesus Christ be whit your spirit."

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan
Yesus Kristus masih Tuan, tetapi ketika orang Belanda bernama Leydekker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus (Perjanjian Baru) itu, sebutan Tuan telah berubah menjadi Tuhan. Dengan kata lain, Leydekker yang pertama kali menulis Tuhan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kosakata Tuhan masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagai pengaruh teologi (agama) Kristen. Pada mulanya hanya sebagai 'plesetan' atau 'salah tulis' seorang Belanda, tapi selanjutnya dibakukan sebagai kosakata baru yang disejajarkan dengan kata ilah (yang disembah) dan rabb (tuan) dalam bahasa Arab. Karena itulah dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta, seorang leksikograf Katolik, tidak memberikan keterangan apa pun tentang kata Tuhan, kecuali menyamakannya dengan Bapa (Allah)!

Demikian bila kita bicara asal-usul kata Tuhan, sekadar untuk mengungkapkan bahwa bekas-bekas penjajahan masih bertebaran di mana-mana, dan banyak di antaranya yang menjadi warisan abadi bagi bangsa Indonesia.

II. Makna Tuhan
Selanjutnya, apa boleh buat, kata Tuhan kita gunakan untuk menerjemahkan kata ilah
yang sebenarnya sudah dipakai orang Indonesia sebelum kata tuhan muncul. Ilahun, jamaknya aalitahun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan 'abada, yaitu "mengabdi" atau "menyembah". Dengan demikian ilahun artinya sama dengan ma'budun, "yang disembah" atau "sesembahan". Lawannya adalah 'abdun, "yang menyembah", atau "pelayan", atau "hamba", atau "budak".

Perhatikan firman Allah dalam Sapi Betina ayat 133: Tahukah kalian bagaimana sikap Yakub (Israel) ketika menghadapi maut? Ketika itu ia bertanya kepada anak-anaknya, "Apakah gerangan yang akan menjadi subjek penyembahan kalian setelah aku mati?" Anak-anaknya menjawab, "Kami akan menyembah kepada tuhanmu, yang juga merupakan tuhan leluhurmu Abraham, Ismael, dan Ishak, sebagai satu-satunya tuhan. Kepadanya kami pasrahkan diri."

Yang menarik, pada ayat di atas Allah menggunakan kata tanya ma (apa), dan bukan man (siapa). Jelas, kata tanya ma mempunyai jangkauan lebih luas daripada man. Dalam kata ma bahkan tercakup man itu sendiri. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa ilah (yang oleh LAI diganti dengan kata allah, dengan huruf a kecil) adalah "sesuatu", bukan hanya "seseorang", yang bersifat "memperbudak", atau "mengendalikan", atau "menguasai".


Jelasnya, yang berperan sebagai ilah itu tidak terbatas pada sesuatu yang hidup saja, tapi bisa juga benda (materi) yang mati. Ini digambarkan Allah antara lain dalam surat Keluarga Amram ayat 14:

"Dibuat indah dalam pandangan manusia (para pria yang ikut perang Badr) kecintaan yang sulit
dikendalikan daging terhadap wanita (=lawan jenis), anak-anak, tumpukan kekayaan berupa emas dan perak, kuda yang bagus (=kendaraan), hewan ternak, dan tanaman (=lahan bisnis). Itu semua adalah perhiasan kehidupan dunia."

Itu semua adalah benda-benda yang bisa memperbudak manusia, alias dijadikan tuan (sesembahan) oleh manusia. Dalam Pembeda 25:43 bahkan Allah menegaskan bahwa manusia juga bisa mempertuhan sifat kedagingannya sendiri.

Selain ilah, dalam Kitab Suci Alquran juga terdapat kata rabb [setara dengan kata Ibrani, adon] yang digunakan untuk menyebut tuan yang disembah. Secara harfiah rabb berarti "pembimbing", atau "pengendali". Allah adalah rabb, tapi selain Allah ada pula arbaban min dunillah, yaitu tuan-tuan selain Allah, di antaranya Alquran menyebutkan bahwa Firaun menyatakan dirinya sebagai tuan atau rabb (Para Malaikat Pencabut 79:24). Dengan demikian, kita bisa membuat definisi tentang tuhan, kira-kira demikian: Tuhan adalah sesuatu yang menguasai dan mengendalikan jiwa manusia, dalam rangka memperbudaknya.

Ingatlah bahwa yang dikuasai dan dikendalikan oleh "tuhan", apa pun atau siapa pun dia, adalah jiwa manusia. Dengan pikiran dan/atau perasaannya itulah manusia melakukan pemandangan dan penilaian terhadap segala sesuatu, yang akhirnya membuat mereka mengambil keputusan (kadang dengan sangat cepat) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sehubungan dengan inilah, agaknya, dalam kaitannya dengan peristiwa hijrah (migrasi), Muhammad mengatakan bahwa setiap tindakan pasti dilandasi suatu motivasi (niat) yang muncul dari dalam hati.

Begitu juga setiap urusan, pasti ada motivasi yang mendasarinya. Maka (dalam kaitanya dengan Hijrah) siapapun yang hijrahnya bertujuan menaati hukum Allah dengan perasaan sukacita, maka berarti motivasi hijrahnya adalah untuk kesenangan Allah. Sedangkan yang hijrahnya karena dunia dan kedangingannya (rangsangan pragmatis), maka dunia itulah yang akan diburunya; dan siapa pun yang hijrahnya karena seorang perempuan atau laki-laki (nafsu berahi), maka mengawini perempuan/laki-laki itulah tujuannya yang hendak dicapainya. Dengan demikian, setiap diri berhijrah dengan tujuan hijrahnya masing-masing. Dengan kata lain, pada saat hjrah dari Baka (Mekkah) ke Yatsrib (Madinah) itu, Muhammad tidak hanya memimpin orang-orang yang bertuankan Allah, yang rohnya dikuasai dan dikendalikan Allah (melalui wahyu-Nya) tapi juga 'terpaksa' membawa serta orang orang-orang yang dikuasai dan dikendalikan oleh motivasi lain.

Keterangan:
1) Hellenisme, nama untuk kebudayaan, cita-cita dan cara hidup orang Yunani seperti yang terdapat di Atena di zaman Pericles. Seringkali dibandingkan dengan kesungguhan kebudayaan Ibrani seperti dilukiskan dalam Perjanjian Lama. Hellenisme dalam abad keempat sebelum digantikan oleh kebudayaan Yunani, tetapi tiap-tiap usaha menghidupkan kembali cita-cita Yunani di zaman modern disebut Hellenisme. (Ensiklopedi umum, Kanisius, 1990).

(ditulis oleh A. Husein KNDM, dengan perubahan)

Comments (0)

Post a Comment