DAY TWO: ACTION!

Posted by mochihotoru | Posted in | Posted on 11:35:00 PM

Sejak hari berganti, para panitia mabim lapangan SAKURA HIMADE sudah bersiap-siap untuk pergi ke pos masing-masing yang terdiri dari 4 pos inti dan beberapa pos bayangan. Sebelum beranjak, semua memanjatkan doa sejenak, berharap rasa deg-degan hilang dan berganti dengan profesionalitas.

Pukul satu pagi, aku pun melesat menuju ke pos 2A di depan masjid kompleks Sekolah Calon Bintara di Sukamiskin, Bandung. Dengan berbekal kantong obat-obatan dan Poccari Sweat, semangat membakar setiap jengkal jiwaku. Bahkan saat udara sedingin itu. Di sana beberapa rekan dari divisi shidousha (Eris), Konsumsi (Irin dan Rai), Acara (Inna), dan Shougun (Ully) sudah menanti. Namun, para daisenpai, termasuk teman kosanku Romi, sama sekali belum terlihat. Mereka baru datang ketika maba sudah terkumpul di lapangan tembak [nama tempatnya, bukan tempat eksekusi].

Satu per satu kelompok dengan keunikannya masing-masing datang dengan langkah penuh ragu. Sebagai Medik, aku terus memerhatikan mereka dari belakang. Takut-takut ada dari mereka yang sakit seperti muntah karena sakit. Aku tahu perasaan mereka. Penuh ketakutan dan kewaspadaan. Banyak yang hanya bisa terdiam hingga yel-yelnya pun tak terlihat "hidup". Tapi ada pula maba yang terlihat sok, bicara seenaknya, dan apatis [name hidden]; seolah menganggap semua ini hal yang paling tak penting sedunia. Sampai-sampai menganggap para senpai hanya makhluk yang tak punya otak [sungguh keterlaluan!]. Tapi tak sedikit maba yang berani mengeluarkan pendapat dan memiliki keyakinan sendiri dalam hal kepemimpinan.

Pos 2A memang dipersiapkan untuk melatih para maba untuk mengasah kepemimpinan. Aku pun merasakan besarnya manfaatnya saat oslap tahun lalu--kebetulan aku menjadi ketua kelompok. Saat rombongan maba datang, mereka disambut para daisenpai dengan tensi A. Tak ada tekanan. Mereka lalu disuruh menunjukkan yel-yel mereka. Setelah itu, dibagikanlah "makanan ternikmat" dengan ramuan rahasia turun-temurun sejak zaman Gajah Mada hingga sekarang: agar-agar rasa bratawali! Banyak yang tak sanggup memakan semua dan waktu yang mereka sendiri tetapkan akhirnya lewat. Saat itulah sang Shougun, Ully, datang dengan tanduk merah di kepalanya untuk memberi konsekuensi. Tensi pun berubah menjadi C. Para daisenpai menekan mereka dengan terus mengingatkan soal tanggung jawab, kepemimpinan, dan moralitas [pesan yang sangat mengena padaku]. Dari sana, aku pun mempelajari karakteristik maba SasJep 2008, terutama saat sang ketua kelompok menerima konsekuensi.

Pos 2A berakhir dengan "damai". Tak ada maba yang jatuh sakit di sana. Hanya satu orang yang mengaku sakit kepala namun tak bisa kuberikan obatnya karena dia bilang tak cocok. Lantas aku pun pergi ke pos 3A, pos yang paling menciutkan hati dan melelahkan fisik, tempak dilatihnya fisik dan mental sekaligus.

Ada yang berkata bahwa oslap Sastra Jepang lebih riweuh dari yang lainnya. Atau bahkan ada yang berkata oslap SasJep mendekati perpeloncoan. Akan tetapi menurutku banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari tiap acara ini, selain pengalaman untuk diceritakan kepada anak-cucu nanti. Yang aku rasakan sendiri adalah kepemimpinan. Soal perpeloncoan, aku tidak setuju. Oslap SasJep didesain sedemikian mungkin agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bahkan satu sesi di mana tahun lalu aku dan angkatan 2007 lain basah-basahan dan dicelupkan di kolam air kotor dan coreng-corengan di muka maba dengan lumpur (seperti tentara) pun tak dihilangkan karena dianggap perpeloncoan [padahal itu adalah sesi menyenangkan bagiku secara pribadi].

Sekitar pukul 10, aku yang sempat tertidur di barak karena kecapaian dan belum makan dibangunkan Uta, sang kaichou. Lalu semua pun bersiap untuk melakukan pentas seni di aula dengan memakai kaos baru--hehe bagus juga kaosnya.

Di aula, maba dari tiap kelas berunjuk gigi dengan menampilkan kehebatannya, termasuk Mercy, Se-chan, dan beberapa maba PFS-ku. Semuanya terlihat luar biasa. Ada yang melakukan tarian bon odori, bermain gitar, biola, berakting, dan bernyanyi-nyanyi. Termasuk para panitia per divisi saat tampil memperkenalkan diri. Tentunya, Medik menampilkan sesuatu yang tidak biasa dengan melakukan adegan keluar tiba-tiba dari luar lewat jendela [lebih seperti adegan FBI yang menggerebek buronan daripada Tim Medis atau SAR].

Akhirnya, semua berakhir pukul 11.30. Maba dan sebagian panitia pulang dengan tronton yang disiapkan; panti dan kaichou pulang dengan mobil pribadi; sedangkan aku bersama tiga Medik lain, dua SC, dua Acara, dan anak-anak Logistik menyewa dua angkot menuju kampus.

Jam tiga, aku sampai di kosan. Saking capainya, tak ada yang bisa aku lakukan selain tidur. Huff! Magrib aku bangun dan sehabis Isya, Acep yang baru sembuh dari kecelakaan datang membawa makan malam. Acep memang bermaksud tidur di sini. Kita pun makan sambil bercanda.

Sementara dia tidur, aku membaca buku untuk presentasi besok sambil chatting ria dengan salah seorang kouhai bernama Merci hingga larut.

Comments (0)

Post a Comment