KESIGAPAN MEDIK

Posted by mochihotoru | Posted in | Posted on 11:48:00 PM

Lelah.

Itulah yang aku rasakan malam ini. Setelah seharian menguras tenaga dan otak tanpa diimbangi dengan asupan gizi yang seimbang. Derita anak kosan. Bukan masalah uang! Tapi masalah waktu. Aku hampir tak punya waktu untuk pergi ke warung makan, seperti RM KABITA milik pak Rosadi, pemilik kosanku, sekalipun.

Bangun tidur. Setelah itu, aku hanya menonton Indonesia This Morning, tayangan berita berbahasa Inggris di salah satu stasiun televisi, sebentar lalu menyalakan komputer untuk membuat desain majalah Akari yang rencananya terbit besok. Namun sialnya data yang telah aku simpan tak bisa dibuka. Kemungkinan besar karena tak cukup memori. Pukul 11 aku segera ke kampus mengikuti rapat J-Tour (tur jurnalistik) yang diadakan bidang Medfo Himade. Pukul dua, melesatlah aku ke kosan Regina Febria, rekanku di AKARI, di Edelwise, Ciseke. Selain mengambil data-data, kami mengobrol sebentar. Jam 3-4.30 WIB aku berada di kosan. Makan dan memasukan data ke komputer--meski gagal.

Pukul 4.30 cerita menarik dimulai. Berawal dari latihan divisi Medik. Sebelumnya yang aku tahu, latihan hanya sampai magrib. Namun ternyata hari ini PELANTIKAN divisi Medik akan berlangsung.

Awalnya kupikir hanya akan dibentak-bentak biasa dan capai-capaian sedikit. Semakin larut, aku semakin mengesahkan ucapan tadi: ternyata memang "sedikit capai". TIDAK! Bukan 'capai'. Aku sudah tak mengenal lagi kata itu sejak dari kepanitian PFS (Pengenalan Fakultas Sastra) Unpad pada liburan semester lalu--yang membuat aku merasakan banyak perubahan diri.

Lelah.

Kebugaran dan kekuatan fisik merupakan salah satu syarat utama bagi siapa pun yang hendak masuk menjadi medik, selain pengetahuan yang cukup di bidang kesehatan. Bagaimana pun juga seorang medik memiliki tugas yang berat. Keinginan untuk menolong orang lain merupakan sesuatu dari nurani yang suci melintas di hati. Seperti dalam iklan, menjadi Medik seharusnya meyakini benar bahwa menolong orang lain adalah panggilan jiwa. Menolong orang lain yang sekonyong-konyong sakit, bahkan jika sampai jatuh terkulai atau terluka, haruslah disertai pengetahuan yang dasar yang cukup. Jika tidak, ketika pertolongan kita hanya sia-sia karena kita tak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya diam dan celingukan tanpa tahu apa yang harus dilakukan di depan korban dan menunggu anggota medik lain--yang mungkin sedang sibuk juga.

Ketika seorang medik dipanggil untuk menolong seseorang, hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah: mengecek kondisi korban dengan memeriksa jalan napas (airways), kelancaran bernapas (breathing), sirkulasi udara (circulation), ketidakmampuan korban untuk melakukan sesuatu (disability). Jika keadaan (penyakit) korban dirasa gawat atau akut, segera berikan basic life support (bantuan hidup dasar). Setelah itu, segera evakuasi korban ke tempat teduh atau ruang medik.

Pada ujian pelantikan yang berakhir pukul 22.30 malam ini, anak-anak calon anggota divisi medik ospek lapangan Sasjep S1 Unpad, Himade Sakura, termasuk aku, diberikan beberapa ujian yang memakai prinsip-prinsip dasar tadi. Beberapa kali, SC menghilangkan diri--yang terakhir tandu ikut hilang. Kami disuruh mencari mereka di sekitar lingkungan Fasa. Semuanya dirancang seperti keadaan yang sesungguhnya. Jadi pelaksanaannya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh keseriusan serta penuh tanggung jawab.

Namun yang lebih ditekankan pada ujian pelantikan ini adalah kesigapan. Dalam dua kelompok, secepat mungkin kami berpencar mencari korban yang dikatakan bahwa mereka sakit di suatu tempat. Beberapa memang sulit ditemukan, tapi yang membuat fatal adalah karena kami selalu saja lama dalam pengevakuasian dari lokasi "kejadian" ke ruang medik. Karena memang penanganan yang kami lakukan terlalu lama. Beberapa kali seperti itu. Ketika korban ditemukan, kami yang dalam keadaan panik sebenarnya--padahal kode etik medik adalah DILARANG PANIK--kami malah masih sering kebingungan tentang apa yang diderita korban. Blunder bagi divisi medik. Seolah hasil latihan selama 3 bulan ini hilang begitu saja.

Meski begitu, aku mendapat pelajaran hari ini. Ya. Kesigapan dengan penuh persiapan harus dilakukan manakala akan memberikan bantuan agar bisa menolong dengan cukup efektif dan efisien pada saat menolong korban. Kesigapan medik diperlukan agar nyawa korban segera datat ditolong. Berbagai masukan amat dibutuhkan agar kita dapat merumuskan dan melakukan bantuan pada situasi darurat. Tapi bukan berarti kita harus melakukan diskusi dulu sementara korban diacuhkan begitu saja. Medik harus mengutamakan keselamatan korban. Dengan ujian yang membuatku dehidrasi tingkat tinggi ini juga aku akhirnya benar-benar menyadari arti latihan fisik selama ini--apalagi ditambah anomali cuaca yang menghadang Jawa dan Nusa Tenggara saat ini. Divisi medik adalah salah satu divisi yang latihannya menguras fisik dan tenaga, di samping Shougun (istilah Tim Disiplin di sini).

Lelah.

Tapi menyenangkan!

SEMANGAT!!!

Comments (0)

Post a Comment