Teori Akuntansi

Posted by mochihotoru | Posted in | Posted on 11:49:00 PM

0

Teori akuntansi berisi keseluruhan analisis dan komponennya yang menjadi sumber acuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala atau peristiwa dalam akuntansi.

Seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang saling berkaitan secara sistematis yang diajukan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena atau fakta dan seperangkat hipotesis yang bersifat deskriptif sebagai hasil penelitian dengan menggunakan metode ilmiah tertentu.

Dengan demikian, status teori akuntansi akan menjadi sains setara dengan pengertian teori dalam astronomi, ekonomika, fisika, biologi, dan sebagainya. Ia juga dapat didefinisikan sebagai sains yang berdiri sendiri yang menjadi sumber atau induk pengetahuan atau praktik akuntansi.

Teori akuntansi akan merupakan seperangkat hipotesis yang bersifat deskriptif sebagai hasil penelitian dengan menggunakan metode ilmiah tertentu. Istilah ini juga sering dimaksudkan sebagai suatu penalaran logis yang memberikan penjelasan dan alasan tentang perlakuan akuntansi tertentu dan tentang struktur akuntansi yang berlaku dalam suatu wilayah tertentu.

Teori akuntansi membahas proses pemikiran atau penalaran untuk menjelaskan kelayakan prinsip atau praktik akuntansi tertentu yang sudah berjalan atau untuk memberikan landasan konseptual dalam penentuan standar atau praktik yang baru.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa teori akuntansi merupakan penalaran logis, gagasan-gagasan mendasar, atau gagasan-gagasan yang berkaitan dan konsisten.

Proses penalaran logis tersebut dapat disebut sebagai perekayasaan. Hasil perekayasaan dalam hal ini dapat berupa seperangkat prinsip umum, seperangkat doktrin, atau suatu struktur/erangka konsep-konsep yang terpadu. k

Prinsip umum, doktrin, atau rerangka tersebut berfungsi untuk:

  • Acuan pengevaluasian praktik akuntansi yang berjalan;
  • Pengarah pengembangan praktik dan prosedur akuntansi baru;
  • Basis penurunan standar akuntansi;
  • Titik tolak pengujian dan perbaikan praktik berjalan;
  • Pedoman pemecahan masalah potensial.

Perspektif Teori Akuntansi

Bila akuntansi diberlakukan sebagai sains, teori akan merupakan penjelasan ilmiah. Bila akuntansi diberlakukan sebagai teknologi, teori ini diartikan sebagai penalaran logis.

Manapun perlakuan yang dianut, teori ini akan berisi pernyataan-pernyataan yang berupa baik penjelasan ataupun pembenaran tentang suatu fenomena atau perlakuan akuntansi.

Aspek Sasaran Teori

Aspek sasaran ini mendasari pembedaan teori akuntansi menjadi positif dan normatif.

Penjelasan positif berisi pernyataan tentang sesuatu seperti apa adanya sesuai dengan fakta atau apa yang terjadi atas dasar pengamatan empiris.

Penjelasan normatif berisi pernyataan dan penalaran untuk menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk atau relevan atau tak relevan dalam kaitannya dengan kebijakan ekonomi atau sosial tertentu.

Aspek Tataran Semiotika

Teori ini dapat dibedakan atas dasar sasaran bahasan dan pemahaman menjadi:

  • Semantik, berusaha menjawab apakah elemen-elemen statement keuangan benar-benar merepresentasikan apa yang memang dimaksudkan dan untuk meyakinkan bahwa makna yang terkandung dalam simbol pelaporan tidak disalahartikan oleh pemakai.
  • Sintaktik, berusaha untuk memberi penjelasan dan penalaran tentang apa yang harus dilaporkan, siapa melaporkan, kapan dilaporkan dan bagaimana melaporkannya.
  • Pragmatik, membahas reaksi pihak yang dituju oleh informasi akuntansi. Apakah informasi sampai ke yang dituju dan diinterpretasi dengan tepat merupakan masalah keefektifan komunikasi.

Verifikasi teori merupakan prosedur untuk menentukan apakah suatu teori valid atau tidak.

  • Teori akuntansi normatif dievaluasi validitasnya atas dasar penalaran logis yang melandasi teori yang diajukan.
  • Teori akuntansi positif dinilai validitasnya atas dasar kesesuaian teori dengan fakta atau apa yang nyatanya terjadi

Sumber: AsianBrain.com


Betulkah PKI Terlibat G30S?

Posted by mochihotoru | Posted in , , , , , | Posted on 11:49:00 PM

0

Oleh Asvi Warman Adam

Sejarah, menurut E.H. Carr, dalam buku teksnya What is History, adalah dialog yang tak pernah selesai antara masa sekarang dan lampau, suatu proses interaksi yang berkesinambungan antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya. Jadi, tidak ada tulisan atau buku sejarah yang final. Bila ditemukan sumber atau fakta baru, buku sejarah yang lama bisa direvisi. Demikian pula halnya dengan kasus Gerakan Tiga Puluh September 1965 (G30S) Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu).

Setelah Soeharto berhenti menjadi presiden pada 1998 lalu, sudah terbit beberapa buku baru yang mengungkapkan hal yang selama ini kurang diketahui masyarakat. Misalnya buku Saskia Eleonora Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia (1999), dan pleidoi Kolonel A. Latief, Soeharto Terlibat G30S (2000). Di samping itu, telah terbuka pula berbagai arsip mengenai Indonesia tahun 1965/1966 di AS dan Inggris. Kedua jenis sumber di atas dapat dijadikan landasan untuk mempertanyakan kebenaran sejarah tentang peristiwa tersebut versi pemerintah Indonesia, yang menyebut pelaku utamanya adalah PKI dan Biro Chusus-nya.

Dalam bukunya, Latief mengungkapkan bahwa ia ditangkap tanggal 11 Oktober 1965. Ketika itu paha kanannya ditusuk bayonet dan lutut kirinya ditembak. Selama 10 tahun ia berada dalam sel isolasi yang dikunci dan baru diadili pada 1978. Dari rangkaian tekanan di dalam penjara atau ketika diperiksa dalam sidang Mahmilub, dapat dipertanyakan apakah pengakuan sebelum dan dalam sidang itu dapat dijadikan sumber sejarah yang layak dipercaya.

Hal serupa dialami oleh Sulami, Wakil II Sekjen Gerwani, seperti dituturkan dalam buku Perempuan-Kebenaran dan Penjara (1999). Wanita ini ditangkap pada 1967 dan baru diadili pada 1975. Antara lain ia dituduh memberikan barang berharga kepada keluarga Bung Karno di Istana Bogor. “Karena menolak tuduhan itu, interogator baju loreng marah dan memerintahkan algojo agar kedua jari kaki saya diinjak dengan sepatu tentara.... Dengan geram interogator bertanya, ‘Bagaimana? Ngaku tidak?’ Saya diamkan saja. Ia teriak, ‘Cambuk sepuluh kali.’ Algojo penginjak kaki mundur dan tukang cambuk maju dengan rotan belahan. Tiga malam saya mengalami keadaan itu....”

Kedua pengalaman di atas rasanya sudah cukup untuk meragukan validitas sumber yang dipergunakan dalam menyusun sejarah versi pemerintah Orde Baru. Selain itu, dapat dikatakan bahwa alasan utama untuk menyimpulkan bahwa PKI—sebagai organisasi—mendalangi G30S tidak kuat. Yang dipakai alat bukti adalah pengakuan Aidit sebanyak 50 halaman folio sebelum ditembak di Jawa Tengah, yang konon berbunyi, “Saya adalah orang yang mempunyai tanggung jawab tertinggi pada peristiwa 30 September 1965 dan disokong oleh penjabat PKI lainnya serta penjabat organisasi rakyat di bawah PKI” (Soegiarso Soerojo, 1988: 265). Apakah betul Aidit yang menulis surat pengakuan itu? Kalau benar ia mengaku, mengapa ia ditembak mati?

Selain itu, selama ini bukti utama lainnya adalah penerbitan Harian Rakyat tanggal 2 Oktober 1965. Dalam buku putih yang disunting oleh Alex Dinuth itu (1997), dicantumkan isi Harian Rakyat yang terdiri dari Pojok (“Gerakan 30 September sudah menindak Dewan Djenderal. Simpati dan dukungan rakjat di pihak Gerakan 30 September.”) Tajuk surat kabar itu antara lain menyatakan, “Tetapi bagaimanapun djuga persoalan tersebut adalah persoalan intern AD. Tetapi kita rakjat jang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusi mejakini akan benarnja tindakan jang dilakukan oleh Gerakan 30 September untuk menjelamatkan revolusi dan rakjat”. Dimuat juga keterangan dari Anwar Sanusi (anggota Politbiro CC PKI) bahwa “Situasi ibu pertiwi dalam keadaan hamil tua” dan karikatur H.R. dengan kata-kata “Letkol Untung Komandan Bataljon Tjakrabirawa menjelamatkan Presiden dan RI dari coup Dewan Djenderal”.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/59/PKI-1925-Commisariate_Batavia.jpg

Pada tanggal 1 Oktober 1965 malam, Pepelrada Jaya melarang terbit semua harian yang terbit di Ibu Kota kecuali koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, yang memang diterbitkan pihak militer. Surat Perintah Pangdam V/Jaya (No. 01/Drt/10/1965) yang dikeluarkan Mayjen Umar Wirahadikumah berbunyi, “Dalam rangka mengamankan pemberitaan yang simpang-siur mengenai peristiwa pengkhianatan oleh apa yang dinamakan Komando Gerakan 30 September/Dewan Revolusi, perlu adanya tindakan-tindakan penguasaan terhadap media-media pemberitaan”.

Menjadi tanda tanya mengapa Harian Rakyat yang jelas menjadi terompet PKI selama ini bisa terbit. Salah satu dokumen yang berasal dari Kedutaan Inggris di Jakarta (South-East Asia Department, Indonesia, D H 1015/218 10 Oct 1965) menyingkap keraguan tentang isi koran tersebut, apakah betul mewakili PKI. “My guess is that the editor took an unauthorised initiative.” Apakah koran kiri sengaja dibiarkan terbit untuk menjebaknya? Atau sebaliknya, apakah tidak mungkin, bila isi Harian Rakyat tanggal 2 Oktober 1965 dipersiapkan oleh pihak lain.

Larangan terbit semua koran itu—meskipun hanya lima hari—sangat menentukan, karena informasi dikuasai dan dimonopoli oleh pihak militer. Ketakutan akan dibredel kembali menyebabkan semua media massa hanya menulis atau mengutip pemberitaan sesuai dengan keinginan pemerintah/ pihak keamanan.

Kampanye tentang keganasan komunis dengan gencar dilakukan oleh kedua harian militer tersebut. Berita Yudha Minggu, 11 Oktober 1965, memberitakan bahwa tubuh para jenderal itu telah dirusak, “Mata dicungkil dan sementara itu ada yang dipotong kemaluan mereka.” Sedangkan sukarelawan-sukarelawan Gerwani melakukan hubungan tidak senonoh dengan mayat para jenderal itu. Padahal, menurut visum dokter tidaklah demikian. Para korban itu meninggal dengan luka-luka karena tembakan atau terbentur dinding sumur di Lubang Buaya. Saskia Wieringa mencatat bahwa koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha menyiarkan kampanye sadistis sejenis ini secara teratur sampai bulan Desember 1965.

Informasi (atau lebih tepat disinformasi) itulah antara lain yang menyulut kemarahan rakyat dan akhirnya melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap mereka yang dicurigai sebagai anggota PKI. Kampanye untuk menghantam komunis ini mendapat dukungan penuh dari dunia Barat.

Dalam dokumen dari pihak Inggris yang dialamatkan ke Singapura mengenai “Indonesian Disturbances” (D 1835, 6 Oct 1965) ditulis “Meanwhile we certainly do not exclude any unattributable propaganda or psywar activities which would contribute to weakening the P.K.I. permanently. We therefore agree with the recommendation in last sentence your paragraph 2. Suitable propaganda themes might be: P.K.I. brutally in murdering Generals and Nasution's daughter; Chinese interference in particular arms shipments; P.K.I. subverting Indonesia as agents of foreign Communists; fact that Aidit and other prominent Communists went to ground; the virtual kidnapping of Sukarno by Untung and P.K.I.; etc., etc. We want to act quickly while the Indonesian are still off balance, but treatment will need to be subtle.”

Sebetulnya, kalau Buku Putih yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara RI tahun 1994 dibaca dengan seksama, bisa diperoleh kesimpulan yang tentu tidak diharapkan oleh pembuat buku tersebut.

Dalam buku Gerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia itu terdapat indeks nama sebanyak 306 orang tokoh (pada 10 halaman). Kalau kita melihat daftar indeks itu terlihat bahwa kasus tersebut pada intinya menyangkut Presiden Sukarno (disebut 128 kali), dua tokoh PKI (Aidit dan Syam, 77 kali), dan dua kubu perwira ABRI (107 kali). Dalam “indeks kata penting”, tiga kata yang paling sering muncul adalah: 1) Gerakan Tiga Puluh September, 2) Dewan Revolusi, 3) Dewan Jenderal. Sedangkan kata “PKI” hanya disebut dua kali.

Jadi, buku ini berbicara lebih tentang tokoh PKI (atau menurut istilah Orde Baru, oknum), yaitu Aidit dan Syam, ketimbang mengenai PKI sebagai sebuah organisasi sosial-politik.

Aidit memang Ketua PKI, tetapi dalam suratnya kepada Sukarno ia mengatakan bahwa “Tanggal 30 September tengah malam saya diambil oleh orang berpakaian Cakrabirawa (tidak saya kenal), dengan keterangan: dipanggil ke Istana untuk sidang darurat kabinet, tetapi kendaraan tersebut menuju ke jurusan Jatinegara. Kemudian pindah mobil terus menuju ke sebuah kampung dan ditempatkan di sebuah rumah kecil. Di situ saya diberi tahu bahwa akan diadakan penangkapan terhadap anggota-anggota Dewan Jenderal.” (Soegiarso Soerojo, hlm. 262). Sedangkan Sjam sendiri dalam berbagai buku masih diragukan identitas aslinya, apakah ia agen PKI yang disusupkan ke kalangan Angkatan Darat atau sebaliknya, intel tentara yang menyamar di tubuh PKI, atau bisa juga ia merupakan agen ganda.

Mengenai G30S, penulis sendiri berpendapat bahwa mustahil peristiwa berdarah itu dirancang oleh pelaku tunggal, dan peristiwa tragis itu disebabkan oleh unsur internal (dalam negeri), didukung faktor eksternal (unsur asing).

Tuduhan bahwa PKI menjadi dalang G30S sebagaimana dimuat dalam buku putih versi pemerintah Orde Baru dan diajarkan di sekolah-sekolah patut dipertanyakan kembali.

http://antho.blog.friendster.com/files/komunis.jpg

Tanggal 1 Oktober 1965 malam, selain sebagai tanggal pembredelan pers yang pertama dalam sejarah Orde Baru, bisa pula dianggap sebagai awal upaya perekayasaan sejarah di Indonesia.

Saya tidak membantah perihal tindakan brutal oleh PKI dan ormasnya sebelum tahun 1965. Aksi sepihak yang dilancarkan oleh orang-orang komunis dalam mengampanyekan ketentuan land reform telah menimbulkan konflik sosial, terutama di pedesaan. Di bidang seni dan budaya terjadi pengekangan kebebasan bagi kelompok yang tidak mendukung Manipol, seperti yang dialami oleh Taufiq Ismail dan kawan-kawan. Aktivis organisasi Islam PII dipermalukan (seperti dalam insiden Kanigoro), HMI dituntut agar dibubarkan.

Namun, semua tindakan yang kasar itu telah dibalas dengan pembantaian terhadap paling sedikit 0,5 juta orang yang dicurigai sebagai penganut paham komunis di Indonesia. Rasanya, pembalasan itu sudah jauh dari setimpal.

Seyogianya rekonsiliasi antara umat Islam dan orang-orang kiri dilakukan pada 1966. Tapi itu tidak dilakukan oleh rezim Orde Baru, yang malah sengaja mengawetkan masalah ini dan menjadikannya sebagai alat legitimasi sekaligus alat represi.

*) Sejarawan LIPI

Sumber: tempo.co.id

OBAMA MUSLIM?

Posted by mochihotoru | Posted in , , , , | Posted on 11:04:00 PM

0

http://0.tqn.com/d/urbanlegends/1/0/3/2/1/look_whos_praying.jpg http://www.wnd.com/images/obamakenya.jpg

Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, adalah seorang kristiani. Konon, dia merupakan salah satu jemaat di Trinity United Church of Christ, sebuah gereja kulit hitam yang termasuk dalam denominasi Kongregasionisme (Puritanisme). Pernyataan Gedung Putih ini menepis anggapan warga AS yang menduga keras Obama seorang muslim.

"Presiden jelasnya adalah seorang kristiani. Dia berdoa setiap hari," kata juru bicara Gedung Putih, Bill Burton, Kamis 19 Agustus 2010.

Makin bertambahnya warga Amerika Serikat yang merasa bahwa Obama bukanlah seorang kristiani diketahui dari hasil survei.

Menurut survei dari Pew Research Center dan Pew Forum on Religion & Public Life, jumlah responden yang menilai Obama adalah muslim kini sebanyak 18 persen dari total partisipan. Jumlah itu meningkat tujuh persen dari hasil survei Maret 2009.

Pada survei yang sama, jumlah respoden yang yakin bahwa Obama adalah umat kristiani kini hanya 34 persen, padahal tahun lalu sebesar 48 persen. Menariknya lagi, sebanyak 43 persen responden saat ini mengaku tidak tahu agama apa yang dianut Obama.

Survei Majalah Time/ABT SRBI, yang berlangsung 16-17 Agustus lalu, mengungkapkan bahwa 47 persen responden menganggap Obama adalah kristiani, sedangkan 24 persen percaya dia Muslim, sedangkan 24 persen mengaku tidak tahu atau tidak memberi jawaban. Bahkan ada yang menganggap dia seorang ateis seperti yang dilontarkan oleh Ann Coulter, seorang pengacara, kritikus politik dan sosial konservatif, penulis, dan kolomnis Amerika, dalam TownHall.com.

Menurut kalangan media massa di AS, pandangan respoden atas keyakinan Obama itu terkait dengan dukungannya atas pembangunan suatu masjid di kawasan Manhattan, New York. Saat mengadakan acara buka puasa di Gedung Putih, Jumat 13 Agustus 2010, Obama menyatakan bahwa Islam merupakan bagian dari Amerika dan umat Muslim berhak mendirikan tempat ibadah di manapun, termasuk di Manhattan.

Namun, kendati juga didukung oleh walikota New York, pembangunan masjid itu ditentang oleh sebagian publik dan kalangan politisi dari Partai Republik. Menurut mereka, pembangunan itu dibenarkan karena dekat dengan kawasan "Ground Zero. "Lokasi itu dulunya adalah kompleks menara kembar World Trade Center, yang hancur akibat serangan teroris al-Qaeda pada Tragedi 11 September 2010, yang menewaskan sekitar 3.000 jiwa.

Menurut pengamat, mereka yang tidak senang dengan dukungan Obama atas pembangunan masjid itu lalu mencoba menciptakan opini di kalangan masyarakat untuk mempertanyakan identitas dan latar belakang Obama.

"Situasi ini mencerminkan makin intensifnya pandangan negatif atas Obama dari kalangan pengkritik," kata Andrew Cohut, direktur Pew Research Center.

Presiden AS sejak 20 Januari 2009 ini memiliki latar belakang yang "warna-warni." Bernama lengkap Barack Hussein Obama, ayahnya adalah seorang muslim asal Kenya dan ibunya adalah kristiani Amerika.

Sejak kecil, Obama dibesarkan oleh ibunya, Ann Dunham, dan orang tua dari ibunya. Pada umur enam hingga 10 tahun, Obama tinggal di Indonesia yang berpopulasi muslim terbanyak di dunia bersama dengan ibu dan ayah tirinya, Lolo Soetoro.


Sumber: allvoices.com


Kekristenan Yahudi Sejauh Tercermin dalam Surat Galatia dan Surat Yakobus

Posted by mochihotoru | Posted in , , | Posted on 4:02:00 AM

0

Tulisan ini berfokus pada dua surat dalam Perjanjian Baru yang berisi polemik yang tajam dan kentara antara kekristenan yang dibela Rasul Paulus dan kekristenan yang dipertahankan orang-orang yang menentang sang Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini. Dua surat ini adalah salah satu surat asli Paulus, yakni surat Galatia, dan surat yang memakai nama Yakobus sebagai penulisnya. Bagian-bagian tertentu dari kedua surat ini akan dianalisis untuk menemukan gagasan-gagasan teologis apa yang dipertahankan oleh orang-orang yang menentang Rasul Paulus, yang dipertentangkan dengan gagasan-gagasan teologis Paulus sendiri. Yang mau ditemukan melalui analisis ini adalah apakah gagasan-gagasan lawan-lawan Rasul Paulus, sejauh tercermin dalam kedua surat ini, adalah gagasan-gagasan yang dapat dikategorikan sebagai gagasan-gagasan kalangan Yahudi-Kristen.

1. Surat Galatia

http://www.cbl.ie/getfile/b42e4278-0213-4f9c-8eb1-bd1251867ff2/paul9.aspx

Telah kita bahas dalam sebuah tulisan yang lalu (klik di sini), bahwa di dalam surat Galatia, salah satu surat asli Rasul Paulus, sang Rasul mengacu ke Konsili Yerusalem yang diadakan suatu waktu dalam kurun dua dekade pertama gerakan Kristen yang dimulai oleh Yesus di Galilea dan dilanjutkan oleh Rasul Yakobus Si Adil, saudara Yesus, di Yerusalem, di Yudea, melalui pendirian Jemaat Induk (Yahudi-Kristen) Yerusalem, yang dikenal sebagai jemaat ebyonim, jemaat “orang-orang miskin.” Juga kita telah perhatikan bahwa dalam surat Galatia ini, Rasul Paulus menyebut-nyebut “saudara-saudara palsu” (pseudadelfoi; Galatia 2:4) yang dituduhnya mau merampas “kemerdekaan Kristen” yang sudah diterima jemaat ini dan mau membawa mereka kepada kehidupan yang terikat pada hukum Taurat Musa, khususnya kewajiban sunat. “Saudara-saudara palsu” ini, karena disebut sebagai “saudara” (adelfos), tentulah orang-orang Kristen; dan karena mereka mau memaksakan kehendak mereka agar orang non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen harus disunat, tentulah mereka adalah orang Yahudi. Jadi, orang-orang yang menentang Rasul Paulus ini adalah orang-orang Kristen-Yahudi. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, “saudara-saudara palsu” ini sudah aktif bergerak menentang Rasul Paulus di jemaat campuran di Antiokhia, dengan mereka menuntut agar orang Kristen non-Yahudi disunat kalau mereka mau sepenuhnya menjadi orang Kristen. Untuk menyelesaikan persoalan ini, yakni persoalan apakah sunat masih harus dilakukan oleh orang Kristen non-Yahudi, Konsili Yerusalem digelar dan menghasilkan kesepakatan untuk membagi wilayah pelayanan Rasul Paulus dan wilayah pelayanan tiga soko guru jemaat Yerusalem (Rasul Yakobus Si Adil, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes) secara etnografis, bukan secara geografis: Rasul Paulus (dan Barnabas) pergi memberitakan injilnya kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi; sedangkan tiga soko guru ini kepada bangsa Yahudi.

Nah, setelah “saudara-saudara palsu” itu dikalahkan dalam Konsili Yerusalem ini dalam debat mengenai sejauh mana sunat masih atau sudah tidak mengikat orang Kristen non-Yahudi, mereka ternyata tidak mundur, melainkan tetap aktif menentang Rasul Paulus dan mengkhotbahkan di jemaat-jemaat yang telah didirikan Rasul Paulus perihal kewajiban sunat yang harus dilaksanakan oleh orang Kristen non-Yahudi. Mereka inilah yang juga menentang Paulus di jemaat Galatia dan meminta jemaat ini untuk memenuhi kewajiban sunat. Apa yang mereka beritakan di jemaat Galatia ini, dan apa yang mereka lakukan di sana?

1.1. Suatu “Injil Lain”

Langsung setelah Rasul Paulus menulis salamnya kepada jemaat di Galatia (1:1-5), dia mengungkapkan rasa kaget dan ketidaksenangannya terhadap keadaan yang sedang terjadi di jemaat ini. Tulisnya (tentu dengan nada emosional), “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu dan mengikuti suatu injil lain (heteron euaggelion), yang sebenarnya bukan injil” (1:6-7). Injil lain ini diberitakan oleh pseudadelfoi itu, yang dinyatakannya sebagai orang-orang yang sudah “mengacaukan” dan “menghasut” jemaat (5:10, 12), dan karena itu sudah pada tempatnya, dalam penilaian Rasul Paulus, mereka harus dikutuk, dan inilah yang dilakukan Paulus, yakni mengutuk mereka sampai dua kali (1:8-9).

Apa isi injil lain ini? Injil lain ini adalah bahwa orang non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen melalui iman mereka pada Yesus Kristus (Galatia 2:16) tetap harus menyunatkan diri mereka. “Saudara-saudara palsu” itu, tulis Rasul Paulus, “berusaha memaksa kamu untuk bersunat” (6:12); dan bukan hanya itu, mereka juga berhasil memengaruhi orang Kristen non-Yahudi di Galatia (bahwa mereka bukan-Yahudi, lihat Galatia 4:8) untuk “memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun” (4:10), yakni memelihara kalender hari-hari raya Yahudi.

Jelas, lawan-lawan Rasul Paulus di jemaat Galatia ini adalah orang-orang Yahudi Kristen yang tetap mengikatkan diri pada agama dan adat-istiadat Yahudi, yang sangat boleh jadi mendapat dukungan dari jemaat induk di Yerusalem dan dari tiga soko guru di sana, sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya.

1.2. Menolak Status Kerasulan Paulus

Persis pada bagian pembuka surat Galatia, Rasul Paulus menekankan dengan kuat bahwa dia adalah “seorang rasul” yang ditetapkan bukan oleh “manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (1:1), dan bahwa injil yang diberitakannya diterimanya bukan dari manusia melainkan dari “penyataan Yesus Kristus” (2:12 [di’ apokalupseōs Iēsou Khristou]; bdk ayat 16). Bahkan Paulus sampai perlu menegaskan bahwa dia sudah dipilih dan dipanggil untuk menjadi seorang rasul bagi bangsa-bangsa bukan-Yahudi “sejak dalam kandungan ibunya” (1:15). Seperti dilihat oleh Lüdemann (1989: 98), sikap Paulus yang defensif seperti ini menunjukkan bahwa di jemaat Galatia ada kalangan yang mempertanyakan validitas kerasulan Paulus, sehingga untuk menangkis hal negatif ini dia perlu sampai dua kali menegaskan keabsahan status kerasulannya.

Kita dapat berasumsi bahwa validitas kerasulan Paulus bisa dipertanyakan tentu karena lawan-lawan Paulus mengetahui bahwa dia bukanlah salah seorang saksi mata kehidupan Yesus (bdk argumen yang diajukan dalam Pseudo-Klementin Homili Buku XVII, pasal 19,1-7), dan bahwa dia baru menjadi atau mengklaim diri sebagai rasul setelah rasul-rasul lain yang merupakan saksi mata kehidupan Yesus tampil di muka umum (1:17).

Tetapi, penolakan terhadap keabsahan status rasuli Paulus juga bisa ditimbulkan oleh ketergantungan Rasul Paulus kepada para pemimpin Gereja Induk Yerusalem. Memang Paulus secara eksplisit menegaskan lebih dari satu kali bahwa dia adalah seorang rasul yang independen, mandiri, yang tidak bergantung pada orang lain, bahkan pada tiga soko guru terpandang Gereja Induk Yerusalem sekalipun, sebab jabatan kerasulannya diklaimnya diterimanya langsung dari Yesus Kristus sendiri (Galatia 1:1; 1:16-18; 2:1-10). Tetapi, pernyataan-pernyataan tentang kemandiriannya sebagai seorang rasul justru dapat ditafsirkan sebaliknya bahwa Rasul Paulus memang bergantung pada para pemimpin utama jemaat Yahudi-Kristen di Yerusalam, dan ketergantungan ini terlalu kentara untuk tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Nah, persoalannya di sini: Jikalau Rasul Paulus memang bergantung pada, atau memelihara hubungan baik dengan, tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem, dia mestinya memberitakan injil yang sejalan dengan injil yang diberitakan para soko guru itu, khususnya Rasul Yakobus Si Adil, yakni injil yang mewajibkan orang Kristen non-Yahudi untuk mengamalkan Hukum Taurat, injil yang nomistik. Tetapi, karena kenyataannya Rasul Paulus memberitakan injil yang anti-nomistik, maka ketergantungan dan hubungan dekatnya dengan Gereja Induk Yerusalem dan tiga soko guru di sana diragukan atau dipertanyakan.

Bagi lawan-lawan Rasul Paulus, kerasulan Paulus teruji dan tak dapat diragukan hanya jika dia sungguh-sungguh bergantung pada tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem, bersahabat dengan mereka, didukung penuh oleh mereka, dan memberitakan injil yang nomistik, yang tetap mengikat orang Kristen non-Yahudi pada hukum Taurat Musa. Argumen seperti ini juga diketengahkan dalam bagian dokumen Pseudo-Klementin yang baru dirujuk di atas. Tetapi, karena dalam kenyataannya Rasul Paulus mempertahankan dan menyebarluaskan suatu pandangan teologis yang tidak sejalan dengan konsepsi tentang injil yang dipegang para soko guru itu, maka muncullah “saudara-saudara palsu” yang mempersoalkan keabsahan status kerasulannya dan ajaran-ajarannya.

Selain itu, lawan-lawan Paulus ini juga mengetahui bahwa pada waktu Konsili Yerusalem diadakan, tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem tidak sepatah katapun menyatakan pengakuan mereka terhadap status kerasulan Paulus; yang dicapai sebagai suatu kesepakatan pada waktu itu hanyalah pembagian wilayah kerja secara etnografis antara Paulus dan tiga pemimpin besar jemaat Yahudi-Kristen tertua di Yerusalem ini berdasarkan pertimbangan bahwa Paulus memang telah mendapatkan sukses besar dalam misi evangelisasinya terhadap bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Pengakuan terhadap keberhasilan kerja Paulus tidak otomatis berarti suatu pengakuan terhadap status kerasulannya.

2. Surat Yakobus

Surat Yakobus dibuka dengan salam dari “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus.” Salam ini ditujukan “kepada kedua belas suku di perantauan” (Yakobus 1:1). Pembaca atau penerima surat ini tidak bisa memastikan, apakah Yakobus si penulis surat ini adalah Yakobus Si Adil, saudara Yesus, atau orang lain yang kita tidak ketahui identitasnya, yang memakai nama Yakobus sebagai nama samaran. Para penafsir modern terbagi dua. Ada lebih banyak pakar (misalnya Gerd Lüdemann) yang menyatakan surat Yakobus adalah sebuah surat pseudonimus, surat yang ditulis oleh orang lain yang memakai nama palsu atau nama samaran Yakobus.

http://catholic-resources.org/Images/James-of-Jerusalem-Icon.jpg

Ada juga yang menyatakan bahwa surat Yakobus adalah surat asli yang ditulis oleh Yakobus, saudara Yesus (misalnya Patrick J. Hartin 1991). Alasannya, antara lain, karena surat Yakobus memuat banyak pernyataan yang sejajar dengan ucapan-ucapan tua dan asli yang diucapkan Yesus, yang terdapat dalam sebuah dokumen yang dinamakan Injil “Q” (dokumen yang memuat hanya ucapan-ucapan Yesus yang dipakai oleh Matius dan Lukas sebagai sumber besar kedua selain Injil Markus sebagai sumber besar pertama) atau dalam sumber khusus yang dipakai hanya oleh Matius (sumber M) atau hanya oleh Lukas (sumber L). Hartin (hlm 141-142) mendaftarkan paralelisme antara keduanya, antara lain: Yakobus 1:2 //Lukas 6:22-23//Matius 5:11-12 (tentang hal bersuka cita ketika mengalami penganiayaan); Yakobus 1:4//Matius 5:48 (tentang panggilan menjadi sempurna); Yakobus 1:22,23//Matius 7:24, 26//Lukas 11:9, 13, 9-10 (tentang menjadi pelaku firman); Yakobus 2:5//Matius 5:3,5//Lukas 6:20 (tentang orang miskin); Yakobus 3:12//Matius 7:16-18//Lukas 6:43-44 (tentang buah dari pekerjaan yang baik); Yakobus 3:18//Matius 5:9 (tentang menjadi pembawa damai); Yakobus 4:4//Matius 12:39//Lukas 11:29 (tentang melayani dua tuan); Yakobus 4:8//Matius 5:8 (tentang hati yang murni/suci); Yakobus 4:9//Lukas 6:25 (tentang ihwal meratap dan menangis); Yakobus 5:2-3//Matius 6:19-21//Lukas 12:33-34 (tentang harta di surga); Yakobus 5:6//Lukas 6:37 (tentang jangan menghakimi); Yakobus 5:10//Matius 5:11-12//Lukas 6:23 (tentang nabi-nabi yang menderita); dan sebagainya. Selain itu, sebagaimana Yakobus si Adil adalah seorang monoteistik yang ketat, penulis surat Yakobus juga menekankan monoteisme (2:19). Dalam surat ini, “jemaat” atau “gereja” (ekklēsia; Yakobus 5:14) disebut juga sebagai rumah ibadat Yahudi, sinagoge (sunagōgē; Yakobus 2:2). Jadi, ada bukti-bukti teks yang kuat bahwa penulis surat Yakobus mengenal tradisi-tradisi tua ucapan-ucapan Yesus, saudara Yakobus, dan tidak asing dari lingkungan keagamaan Yahudi.

Tetapi, pada kesempatan ini kita tidak perlu ikut dalam debat yang belum selesai perihal apakah surat Yakobus ditulis oleh Rasul Yakobus Si Adil, saudara Yesus, atau sebagai sebuah surat pseudonimus, surat dengan penulisnya memakai nama samaran atau nama gadungan untuk memberi suatu wibawa rasuli pada surat yang ditulisnya dan meningkatkan kepercayaan para penerima surat ini dulu. Selain itu, kita juga tidak tahu sampai sejauh mana Rasul Yakobus Si Adil menguasai bahasa Yunani (Koine) sehingga dia bisa menulis sendiri dalam bahasa ini.

Yang perlu kita perhatikan saat ini adalah beberapa pernyataan dalam surat ini, khususnya dalam pasal 2, mengenai bagaimana manusia menerima “keselamatan” (sōtēria; Yakobus 2:14), bagaimana “manusia dapat dibenarkan” (dikaioutai anthrōpos; Yakobus 2:24-25 ), yang tampaknya ditulis untuk melawan pandangan-pandangan Rasul Paulus mengenal hal yang sama. Kita sudah mengetahui bahwa para pemimpin kekristenan Yahudi perdana, khususnya Rasul Yakobus Si Adil, sangat anti-Paulus. Kalau bisa diperlihatkan bahwa surat Yakobus pasal 2 memang berisi pernyataan-pernyataan yang sengaja ditulis untuk melawan pandangan Rasul Paulus, kita diperkaya lagi dengan pengetahuan mengenai pandangan kekristenan Yahudi sejauh tercermin dalam surat ini.

2.1. Membandingkan Yakobus 2:10 dengan Galatia 5:3

Yakobus 2:10 berbunyi “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu (holon ton nomon), tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, dia bersalah terhadap seluruhnya.” Galatia 5:3, “Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa dia wajib melakukan seluruh hukum Taurat (holon ton nomon).” Kedua teks di atas memiliki kesamaan kosa kata hanya pada frasa “seluruh hukum Taurat”; selebihnya, keduanya memakai kata-kata yang berbeda.

Tetapi, sejauh menyangkut isi, kedua teks itu sebetulnya memperlihatkan bahwa si penulis surat Yakobus mengenal Galatia 5:3 (bdk juga Galatia 3:10b) dan melawannya dengan suatu pandangan yang berbeda. Pernyataan Paulus dalam teks Galatia ini dirumuskan dalam rangka untuk mengingatkan jemaatnya bahwa mereka harus tidak memilih jalan Taurat untuk mendapatkan pembenaran, sebagaimana ditulisnya pada ayat berikutnya, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat” (Galatia 5:4). Sebaliknya, dengan menempatkan teks Yakobus 2:10 dalam konteks perikopnya (2:5-13), kita harus menyatakan bahwa si penulis surat Yakobus justru menulis bagian ini untuk menantang jemaatnya memenuhi seluruh hukum Taurat. Jalan pemikirannya demikian: Jemaat “berbuat baik” jika mereka menjalankan “hukum utama”, yakni “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri” (2:8; Imamat 19:18). Tetapi jika jemaat “memandang muka”, yakni mengasihi hanya orang kaya dan “menghinakan orang-orang miskin” (ayat 9, 6), jemaat “berbuat dosa” dan jika mereka disorot oleh hukum utama ini, mereka nyata “melakukan pelanggaran” (ayat 9). Jadi, jika mereka mau menjalankan hukum utama itu, mereka harus menjalankan hukum ini tanpa memandang muka orang yang mereka harus kasihi. Hukum ini harus diberlakukan total kepada semua manusia tanpa pilih bulu, sebab, tulisnya, “Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (2:5b). Jika Allah memilih dan memedulikan orang miskin, hal ini adalah juga suatu hukum yang wajib dijalankan oleh jemaat, yakni mengasihi orang miskin juga. Pada ayat 11, si penulis surat Yakobus memberi sebuah contoh lain, ketika dia menegaskan bahwa Allah yang memerintahkan “Jangan berzinah”, juga memerintahkan umat-Nya “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13-14; Ulangan 5:17-18). Nah, barangsiapa yang mau melakukan hukum Allah, orang itu harus sekaligus tidak berzinah dan tidak membunuh; jadi, melakukan hukum Allah harus secara keseluruhan, tidak boleh sepenggal-sepenggal. Tulisnya, “Jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (ayat 11).

Jelas, kalau Rasul Paulus dalam Galatia 5:3 menghendaki jemaatnya membebaskan diri dari seluruh tuntutan hukum Taurat, penulis surat Yakobus justru menekankan hal yang sebaliknya, yakni jemaat harus “menjalankan atau menuruti seluruh hukum Taurat” tanpa kecuali, jika mereka dalam kehidupan ibadah mereka mau “menjadi sempurna dan lengkap” (teleoi kai oloklēroi; Yakobus 1:4). Dalam Perjanjian Baru, sebagaimana dicatat oleh Lüdemann (1989:142), ungkapan “menjalankan atau menuruti seluruh hukum Taurat” hanya muncul dalam teks surat Yakobus ini (2:8, 10).

Jadi, kekristenan yang diamalkan oleh jemaat penerima surat Yakobus adalah kekristenan yang mengikatkan diri sepenuhnya pada hukum Taurat; ini adalah jemaat Yahudi-Kristen.

2.2. Membandingkan Yakobus 2:14-26 dengan Roma 4:2,3, Galatia 2:16, Roma 3:28

Yakobus 2:21 memuat sebuah pertanyaan retorika, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn edikaiōthē), ketika dia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Paulus, di Roma 4:2, menulis, “Sebab jika Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn edikaiōthē), maka dia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” Tentang Abraham, kedua teks ini memiliki kesamaan kata-kata pada frasa “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya”. Sebelum Paulus menulis surat-suratnya, khususnya menulis teks Roma 4:2 ini, tidak ada seorang Yahudi pun yang tidak memandang Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya. Hanya bagi Rasul Paulus, Abraham menerima “pembenaran” (dikaiosunē) dari Allah bukan karena perbuatan-perbuatannya, tetapi karena “iman”-nya (pistis) (Roma 4:3).

Tetapi si penulis surat Yakobus, melalui pertanyaan retorikanya ini, menyatakan hal sebaliknya, bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, khususnya ketika Bapak Leluhur Israel ini mempersembahkan Ishak, anaknya. Dengan demikian, si penulis surat Yakobus ini mengenal pandangan Rasul Paulus ini dan membantahnya; pandangannya yang diungkapkan secara retoris ini menunjukkan bahwa dia mengutip sekaligus membantah dan menyepelekan pandangan Rasul Paulus. Yakobus 2:23 berbunyi, “(Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan), ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’” Dengan memakai kata-kata (dalam bahasa Yunani) yang sama persis dengan yang dipakai dalam Yakobus 2:23, dalam Roma 4:3 kita temukan sebuah pernyataan yang sama, yang ditulis Rasul Paulus, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau Rasul Paulus mengutip teks ini dari Kejadian 15:6 untuk mendukung pendapatnya bahwa Abraham dibenarkan Allah karena iman atau kepercayaannya (pistis), dan bukan karena perbuatannya (to ergon; Roma 4:2), maka si penulis surat Yakobus justru mau menegaskan peran perbuatan (to ergon) yang membuat “iman menjadi sempurna (atau lengkap)” (hē pistis eteleiōthē) (Yakobus 2:22; juga ayat 24). Jadi, si penulis surat Yakobus menerima Abraham sebagai contoh orang yang dibenarkan Allah, tetapi tidak untuk mempertentangkan iman dengan perbuatan, melainkan sebagai contoh tentang perbuatan yang membuat iman menjadi sempurna atau lengkap. Iman saja, bagi penulis surat Yakobus, tidak cukup untuk orang dibenarkan oleh Allah; tulisnya, “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya (monon) karena iman” (Yakobus 2:24).

Yakobus 2:24 perlu dibandingkan dengan teks-teks Paulus yang bertolakbelakang dengannya, yakni Galatia 2:16, “Tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman kepada Yesus Kristus”; dan juga Roma 3:28 yang berbunyi, “Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena dia melakukan hukum Taurat (khōris ergōn nomou).” Harus dicatat bahwa sebelum Rasul Paulus menulis surat-suratnya yang di dalamnya dia mempertentangkan iman dan perbuatan, tidak ada seorang Yahudi pun pernah menulis hal yang sama. Teks dalam 4 Ezra 13:23; 7:24; dan 8:31 ff., memang dekat dengan pandangan Paulus, tetapi penulisnya tidak memandang iman dan perbuatan sebagai dua hal yang bertentangan.

Rasul Paulus menekankan bahwa hanya oleh iman saja orang menerima pembenaran dari Allah; pengamalan atau “kerja hukum Taurat” (ta erga to nomou) sama sekali tidak memberi tambahan apapun pada prestasi manusia untuk dia menerima pembenaran dari Allah. Bagi Rasul Paulus, hanya oleh iman manusia dibenarkan oleh Allah; dan baginya, pembenaran melalui iman tidak bisa ada bersama-sama dengan pembenaran melalui pelaksanaan hukum Taurat.

Penulis surat Yakobus menolak kedudukan eksklusif iman dalam orang menerima pembenaran Allah sebagaimana dipahami Paulus, ketika dia menulis teks Yakobus 2:24 yang di dalamnya dia menegaskan bahwa manusia dibenarkan bukan “hanya (monon) karena iman”. Dengan demikian jelaslah bahwa Yakobus 2:24 ditulis untuk menolak atau melawan Rasul Paulus yang menegaskan hanya iman yang bisa menyelamatkan manusia. Bagi si penulis surat Yakobus, manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn), dan perbuatan-perbuatan menentukan kesempurnaan atau kelengkapan iman seseorang (Yakobus 2:22). Karena dia menolak fungsi eksklusif iman dalam pencapaian keselamatan (sebagaimana diajarkan Rasul Paulus), maka kalau dia menegaskan peran perbuatan yang dikontraskan dengan peran iman dalam orang menerima pembenaran Allah (seperti dalam Yakobus 2:24), maka tentu saja “perbuatan” (ergon) yang dimaksudkannya adalah “pengamalan Taurat” (ta erga tou nomou).

Tentu saja, kita dapat membantah si penulis surat Yakobus yang menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak memberi tempat pada moralitas atau perilaku etis, atau perbuatan, dalam manusia mencapai keselamatan dan menerima pembenaran Allah. Khususnya kalau kita perhatikan teks seperti Roma 1:5 yang menempatkan iman sejalan dengan ketaatan, yang diungkapkan sebagai “ketaatan iman” (eis hupakoēn pisteōs); atau teks Galatia 5:6 yang mengenal konsep “iman yang bekerja oleh kasih” (pistis di’ agapēs energoumenē). Bahkan dalam Galatia 5:14, Rasul Paulus menulis dengan tegas bahwa “seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’”

Tetapi, penolakan si penulis surat Yakobus terhadap Rasul Paulus tentunya ditimbulkan oleh pandangan yang umum ditemukan dalam surat-surat Paulus, khususnya surat Galatia dan surat Roma, yang memang sangat menekankan fungsi eksklusif iman (pistis) dalam pencapaian keselamatan dan penerimaan pembenaran dari Allah. Selain itu, di kalangan orang Kristen Yahudi perdana, sebagaimana sudah kita ketahui, sudah tertanam suatu kesimpulan umum dalam diri mereka bahwa Rasul Paulus, sebagai Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi, telah menepis sama sekali peran hukum Taurat dalam orang mencapai keselamatan.

Nah, si penulis surat Yakobus ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari orang-orang Yahudi-Kristen lainnya, misalnya Yakobus si Adil atau si penulis dokumen Pseudo-Klementin, yang menolak Rasul Paulus dan menyerang doktrin keselamatan yang diajarkannya yang telah menggeser peran Taurat ke posisi yang sangat tidak signifikan dan sangat tidak menentukan dalam orang menerima keselamatan dan pembenaran Allah.

Penutup

Telah diperlihatkan di atas bahwa dalam jemaat Galatia, Rasul Paulus ditentang oleh kalangan yang disebutnya “saudara-saudara palsu” yang menuntut orang Kristen bukan-Yahudi menyunatkan diri mereka jika mereka mau menjadi bagian dari gereja Yesus Kristus. Para penentang Rasul Paulus ini adalah orang-orang Yahudi-Kristen yang berasal dari Gereja Induk Yerusalem, dan dengan demikian mereka menganut dan mempertahankan pandangan-pandangan teologi Yahudi-Kristen seperti yang dianut dan dipertahankan para soko guru jemaat induk ini, yakni Rasul Yakobus, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Lawan-lawan Paulus ini bukan saja menolak injil yang diberitakan Paulus, tetapi juga mempersoalkan validitas status kerasulannya berhubung sang Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini tidak menyebarkan injil yang sejalan dengan injil yang diberitakan para pemimpin jemaat induk Yerusalem, dan juga karena dia bukan seorang saksi mata yang sama-sama bekerja dengan rasul-rasul semula Yesus Kristus.

Dalam surat Yakobus yang isinya memperlihatkan warna keyahudian, kita temukan suatu penolakan kuat si penulis surat ini terhadap ajaran Rasul Paulus yang menegaskan bahwa orang dibenarkan atau diselamatkan hanya karena iman (pistis), dan bukan karena “melakukan hukum Taurat” (ta erga tou nomou). Sebaliknya, si penulis surat Yakobus ini menekankan bahwa orang dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, atau karena mengamalkan Taurat, dan bukan “hanya karena iman”. Baginya, iman menjadi sempurna dan lengkap kalau disertai dengan perbuatan-perbuatan seperti diperintahkan Taurat Musa.

Jadi, surat Galatia dan surat Yakobus mencerminkan suatu bentuk kekristenan Yahudi yang dipertahankan para pembelanya yang sedang berhadapan dengan kekristenan yang dibangun Rasul Paulus. Ciri pokok injil yang dipertahankan kekristenan Yahudi ini adalah injil yang nomistik, kontras dengan injil Paulus yang anti-nomistik. Bagi para pembela kekristenan Yahudi, ikatan perjanjian (covenant) yang dibuat Allah dengan Musa melalui pemberian Hukum (nomos) Musa (di Gunung Sinai), tidak dibatalkan oleh ikatan perjanjian yang dibuat Allah dengan gereja melalui Yesus Kristus. Jadi, injil Yahudi-Kristen adalah suatu injil yang berbasis pada perjanjian Allah dengan Musa sekaligus pada perjanjian Allah dengan Yesus; inilah yang disebut injil nomisme kovenan (covenantal nomism).

Sumber rujukan:

(1) Gerd Lüdemann, Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989) 97-103; 140-149. (2) Patrick J. Hartin, James and the Q Sayings of Jesus (Sheffield: JSOT Press, 1991). (3) Jouette M. Bassler, ed., Pauline Theology. Vol I: Thessalonians, Philippians, Galatians, Philemon (Minneapolis: Fortress Press, 1991) 125-179.

Sumber: ioanesrakhmat.com