Puasa dalam Ajaran Hindu

Posted by mochihotoru | Posted in , , | Posted on 5:37:00 PM

Sebagai anggota masyarakat yang hidup di tengah-tengah orang Islam yang menjalankan puasa di bulan Islam Ramadan, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan mendengar, melihat juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan ritual tahunan tersebut. Namun hal ini juga menggugah keingintahuan dalam diri orang Hindu. Kemudian akan timbul pertanyaan, adalah puasa dalam ajaran Hindu? Kalaupun ada, mantra atau sloka manakah dalam Weda yang memerintahkan untuk berpuasa, kapan, dan bagaimana melakukannya?

Pada orang-orang Jawa ajaran puasa ini juga cukup memasyarakat. Kita mengenal banyak macam puasa. Ada yang dinamakan “Pasa Ngebleng” yaitu puasa tidak makan tidak minum dan ngumpet di suatu tempat tertentu, biasanya di kamar atau juga membuat lubang di tanah, waktunya bisa satu hari satu malam, tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh malam, dan seterusnya. Hal ini mirip dengan puasa Nyepi. Ada juga puasa “Mutih” yaitu puasa hanya dengan makan nasi putih tanpa lauk tanpa garam, minumnya juga hanya air putih tanpa pemanis. Waktunya fleksibel; ada yang satu hari, tiga hari, tujuh hari. Kemudian puasa “Ngrowot” yaitu puasa hanya makan umbi-umbian, buah-buahan, selain nasi. Ada juga puasa tidak tidur atau “melek”.

Pertanyaan semakin kuat, adakah ajaran puasa dalam Hindu? Ya, benar. Ajaran Hindu penuh dengan ajaran puasa yang dikenal dengan istilah “tapa”, meskipun istilah puasa itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta dari kata upawasa. Jadi sebenarnya Islam Indonesia telah meminjam istilah puasa dari Hindu-Buddha sebab puasa dalam bahasa Arab adalah shaum, di mana dalam bahasa Jawa dan Sunda istilahnya menjadi siam. Tapa berarti pengendalian atas indra-indra dan pikiran. Dengan tapa orang mencapai kesucian, dengan kesucian orang bisa dekat dengan Hyang Widhi. Dunia ini bisa berjalan dengan baik karena disangga oleh salah satunya adalah tapa.

http://kemoning.info/blogs/wp-content/uploads/2010/01/siwaratri.jpg

Artarwa Weda XII.1.1 mengatakan:

“Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthiwim dharayanti.”

(Sesungguhnya Satya, rta, diksa, tapa, brahma dan Yajna yang menyangga dunia.)

Yajur Weda XX.25 mengatakan:

“Dengan melakukan tapa (brata) seseorang memperoleh diksa (penyucian), dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina, dengan daksina seseorang memperoleh sraddha dan dengan sraddha seseorang memperoleh satya.”

Atharwa Weda VIII.9.3 mengatakan:

“Brahma-enad vidyat tapasa vipascit.”

(Orang yang bijaksana mengetahui Hyang Widhi dengan sarana tapa [penebusan dosa].)

Artarwa Weda IV.11.6 mengatakan:

“Yena devah svar aruruhur, hitva sariram amrtasya nabhim,

Tena gesma sukrtasya lokam, gharmasya vratena tapasa ya sasya vah.”

(Dengan pertolongan Hyang Widhi, orang-orang bijaksana sesudah kematian memperoleh keselamatan, yang mencapai pusat nectar [minuman dewa] yakni kebahagiaan sejati. Semoga kami yang berkeinginan kemasyuran juga mencapai kekekalan itu, melalui pelaksanaan pertapaan yang keras dan menjalankan janji [brata].)

Atharwa Weda XI.8.2 mengatakan:

“Tapas caiva-astam karma ca-antar mahati-arna ve.”

(Tapa dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan.)

Rg Weda IX.83.1 mengatakan:

“Atapta-tanur na tad amo asnute.”

(Orang tidak bisa menyadari Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Agung tanpa melaksanakan tapa.)

Intisari tapa adalah pengendalian atau pembatasan atas dua hal yaitu pikiran dan indra-indra. Indra jumlahnya ada lima yang disebut Panca Indra. Indra mempunyai alat indra yang juga berjumlah lima yang disebut Panca Karmendriya, dan mempunyai obyek indra yang disebut Panca Tanmatra.

Indra-indra itu antara lain:

1. Indra pendengaran alatnya telinga obyeknya suara.

2. Indra sentuhan alatnya kulit obyeknya angin dan hal-hal yang bila menyentuh terasa menyenangkan.

3. Indra penglihatan alatnya mata obyeknya cahaya atau wujud-wujud.

4. Indra pengecap alatnya lidah obyeknya makanan, minuman.

5. Indra penciuman alatnya hidung obyeknya bau.

Pengendalian atas indra-indra itu adalah sebagai berikut:

1. Pengendalian atas indra pendengaran berarti membatasi telinga untuk mendengarkan hal-hal yang menyenangkan seperti suara musik, suara pujian termasuk suara merdu sang pacar.

2. Pengendalian atas indra sentuhan berarti membatasi kulit untuk merasakan hal-hal yang menyenangkan seperti sentuhan halus kulit kekasih, tempat tidur atau kursi yang empuk, dan lain-lain.

3. Pengendalian atas indra penglihatan berarti membatasi mata untuk melihat hal-hal yang menyenangkan seperti teve, film, video porno, wajah cantik atau tampan, dan sebagainya, tapi arahkan penglihatan ke dalam batin, ke wujud Atman terus ke wujud Sivatattwa, karena di sana lebih indah dan lebih menyenangkan.

4. Pengendalian atas indra pengecap berarti puasa tidak makan dan minum serta membatasi lidah untuk berbicara, bicara hanya hal-hal yang perlu dan baik.

5. Pengendalian atas indra penciuman berarti membatasi hidung untuk mencium bau-bau yang menyenangkan seperti bau harum parfum, makanan, termasuk harum pipi kekasihnya.

Itulah kelima indra yang harus dikendalikan. Kunci untuk bisa mengendalikan indra adalah pengendalian atas pikiran. Pikiran mempunyai jangkauan yang tak terbatas, kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, tajamnya melebihi ketajaman pedang. Kalau bisa mengendalikan pikiran kelima indra juga mudah untuk ditundukkan. Cara mengendalikan pikiran pertama pikiran harus dibersihkan dengan cara membaca atau melantunkan mantra-mantra atau sloka-sloka Weda, dan meditasi.

Sementara itu, ada banyak ragam puasa, namun sayang umat Hindu di Indonesia hanya menjalankan dua puasa secara massal yaitu puasa Nyepi dan puasa Siwa Ratri. Namun demikian sesungguhnya umat Hindu bisa menjalankan puasa Siwa Ratri setiap bulan, sebab setiap bulan kita bertemu dengan Siwa Ratri yaitu pada purwani tilem.

Bhagawan Sri Stya Sai Baba mengatakan:

“Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. 'Candramaa manaso jaathah'. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan. Ada daya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbul susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu 'manas' menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati). Oleh karena itu Chaaturdasi dari bagian yang gelap disebut Siwaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siwa tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasiwaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang Savam (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi Sivam (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas.”

Jadi dengan bisa dikuasainya pikiran, indra-indrapun akan lebih mudah ditundukkan dan kebahagiaan yang sejati akan tercapai.

Wrhaspati Tattwa mengajarkan ada tiga jalan untuk mencapai moksa, yaitu:

1. Jnanabhyadreka, artinya jalan pengetahuan tentang semua tattwa.

2. Indriyayogamaarga, artinya jalan pengendalian atas indra dengan melepaskan diri dari segala indra atau tidak menikmati indra.

3. Trsnadosaksaya, artinya memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk atau kerja tanpa mengikatkan diri pada hasil kerja.

Puasa, mebrata, Upawasa merupakan bagian brata, sedangkan brata bagian dari brata-yoga-tapa-samadi, yang menjadi satu kesatuan dalam konsep Nyama Brata. Kewajiban warga Hindu menggelar brata-yoga-tapa-samadi diisyaratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:

“Hana mara janma tan papihutang brata-yoga-tapa-samadi angetul aminta wiryya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lewih tinemuiya lara, sinakitaning rajah tamah inandehaning prihati.”

(Ada orang yang tidak pernah melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi [dengan memaksa] maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah [angkara murka/ ambisius] dan tamah [malas dan loba], ditindih oleh rasa sakit hati.)

Tegasnya, bila ada orang yang tidak pernah menggelar brata-yoga-tapa-samadi lalu memohon sesuatu kepada Hyang Widhi maka permohonannya itu akan ditolak bahkan akan mendatangkan penderitaan baginya. Yang dimaksud dengan brata adalah mengekang hawa nafsu pancaindra, yoga adalah tepekur merenungi kebesaran Hyang Widhi; tapa adalah pengendalian diri; samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri total sepenuhnya pada kehendak Hyang Widhi.

Jadi, berpuasa yang baik senantiasa disertai dengan kegiatan lainnya seperti di atas, tidak dapat berdiri sendiri. Upawasa batal jika melanggar/ tidak melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi. Untuk kesempurnaan berpuasa, disertai juga dengan ber-dana punia, yaitu memberikan bantuan materi kepada kaum miskin (sedekah).

Aturan-aturan berpuasa bermacam-macam, antara lain:

1. Upawasa yang dilaksanakan dalam jangka panjang lebih dari sehari, di mana pada waktu siang tidak makan dan tidak minum apapun. Yang dinamakan siang adalah sejak hilangnya bintang timur daerah timur sampai timbulnya bintang-bintang di sore hari;

2. Upawasa jangka panjang antara 3-7 hari dengan hanya memakan nasi putih tiga kepal setiap enam jam dan air klungah nyuh gading;

3. Upawasa jangka pendek selama 24 jam tidak makan dan tidak minum apapun disertai dengan mona (tidak berbicara), dilaksanakan ketika Siwaratri dan sipeng (Nyepi);

4. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setahun sekali untuk menebus dosa-dosa karena memakan sesuatu yang dilarang tanpa sengaja; puasa itu dinamakan santapana atau kricchara;

5. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setiap bulan untuk meningkatkan kesuciannya, dinamakan candrayana.

[Bertapa+Untuk+Mengendalikan+Pikiran+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpg]

Ketika akan mulai berpuasa sucikan dahulu badan dan rohani dengan upacara majaya-jaya (jika dipimpin pandita) atau maprayascita jika dilakukan sendiri. Setelah itu haturkan banten tegteg daksina peras ajuman untuk menstanakan Hyang Widhi yang dimohon menyaksikan puasa kita.

Ucapkan mantram:

“Om Trayambakan ya jamahe sugandim pushti wardanam,

urwaru kam jwa bandanat, mrityor muksya mamritat,

Om ayu werdi yasa werdi, werdi pradnyan suka sriam,

dharma santana werdisyat santute sapta werdayah,

Om yawan meraustitho dewam yawad gangga mahitale candrarko gagane yawat, tawad wa wiyayi bhawet.

Om dirgayuastu tatastu astu,

Om awignamastu tatastu astu,

Om subhamastu tatastu astu,

Om sukham bawantu,

Om sriam bawantu,

Om purnam bawantu,

Om ksama sampurna ya namah,

Om hrang hring sah parama siwa aditya ya namah swaha.”

(Ya, Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, hindarkanlah hamba dari perbuatan dosa dan bebaskanlah hamba dari marabahaya dan maut karena hanya kepada-Mu-lah hamba pasrahkan kehidupan ini, tiada yang lain.

Semoga Hyang Widhi melimpahkan kebaikan, umur panjang, kepandaian, kesenangan, kebahagiaan, jalan menuju dharma dan perolehan keturunan, semuanya adalah tujuh pertambahan.

Selama Iswara bersemayam di puncak Mahameru [selama Gunung Himalaya tegak berdiri], selama Sungai Gangga mengalir di dunia ini, selama matahari dan bulan berada di angkasa, semoga selama itu hamba sujud kepada-Mu, ya Hyang Widhi.)

Sumber: sarad-bali, parisada.org

Comments (1)

thanx artikelnya..tapi saya masih bingung kpn hari yang baik untuk berpuasa?

Post a Comment