Stereotipe: Jebakan Kekeliruan Berpikir

Posted by mochihotoru | Posted in , , , , | Posted on 1:56:00 PM

Oleh Erna Suminar

Waktu saya masih kanak-kanak, saya sering diajak berlari oleh teman-teman Sekolah Dasar ketika melewati rumah Pak Sitanggang. Karena Pak Sitanggang di kampung itu memang terkenal sangat galak. Saya belajar dari sekeliling mengenai sopir truk. Sopir truk dipandang sebagai profesi yang negatif, karena sering berhenti di warung remang-remang. Setelah beranjak dewasa, barulah saya mengerti mengenai stereotipe.

Walter Lippman mengatakan stereotipe itu adalah pictures in our head. Stereotipe adalah persepsi yang dianut yang dilekatkan pada kelompok-kelompok atau orang-orang dengan gegabah yang mengabaikan keunikan-keunikan individual. Stereotipe banyak macamnya, diantaranya adalah:

1. Stereotipe berdasarkan jenis kelamin, misalnya: laki-laki kuat sedangkan perempuan lemah.

2. Stereotipe berdasarkan etnis, misalnya: Jawa hipokrit, Palembang pongah, Batak kasar, dan seterusnya.

3. Stereotipe berdasarkan negara, misalnya: Arab nafsu seksnya tinggi, Jerman kaku, dan seterusnya.

Seluruh stereotipe ini lebih banyak kekeliruannya dibandingkan dengan kebenarannya. Stereotipe dibentuk berdasarkan cerita turun temurun untuk dipakai sebagai kerangka rujukan tentang seseorang, kelompok, budaya, bangsa, hingga agama. Stereotipe lebih cenderung dipakai oleh orang yang malas berpikir dan picik. Mereka enggan membuka matanyabahwa dunia ini begitu beragam dan setiap orang adalah unik. Kadang kita sering mencaci orang padahal belum pernah bertemu dan berbicara dengannya. Kadang kita sering menghujat kelompok atau golongan tertentu, padahal belum pernah terjadi dialog sama sekali, bahkan belum pernah hidup berdampingan dengan mereka walau sedetik pun.

Setiap orang pasti pernah melakukan stereotipe negatif kepada orang lain, etnis atau agama tertentu. Dalam derajat tertentu masih bisa ditoleransi sepanjang seluruh stereotipe ini untuk konsumsi diri sendiri. Stereotipe menjadi berbahaya manakala diceritakan kepada orang lain apalagi disebarkan melalui media massa, yang mungkin bisa memicu tragedi yang memilukan.

Salah satu stereotipe yang sangat sensitif, adalah stereotipe soal agama. Stereotipe yang sering dilekatkan pada orang Islam adalah teroris. Jika saja seluruh orang Islam itu teroris, bagaimana mungkin ada seorang Tjut Nyak Dien, Harun Yahya, Malcolm X, Muhammad Iqbal, Muhammad Hatta dan lainnya. Jika seluruh orang Katolik itu jahat dan licik, bagaimana mungkin hadir seorang perempuan berhati mulia, Bunda Teresa dan Romo Mangun yang santun dan humanis. Jika seluruh orang Hindu itu dianggap kolot dan pendendam, bagaimana mungkin muncul seorang Mahatma Gandhi yang sepak terjangnya mengguncang dunia. Mereka memandang kehidupan dari ketinggian, bukan melihat kehidupan dari dalam tempurung.

http://www.thadguy.com/wp-content/uploads/2007/09/three-times-in-one-sentence.png

Karakteristik emosional, keburukan dan kejahatan ahlak seseorang tak ada kaitannya dengan jenis kelamin, etnis maupun agama tertentu. Islam tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk menyakiti orang lain, membunuh, merampok apalagi menjadi teroris. Saya kira di agama-agama lain juga sama, ada hal-hal universal soal bagaimana memperlakukan sesama dan alam dengan penuh belas kasih dan pemeliharaan yang baik. Melekatkan stigma buruk secara serampangan kepada orang di luar kita, golongan di luar kita adalah penyakit bodoh. Menurut At-Thabari penyakit bodoh lebih berbahaya daripada penyakit fisik; penyembuhannya lebih sulit, dan dokternya langka. Penyembuhannya bersifat mendesak, sedangkan dada tempat hati merupakan posisi yang menentukan karena di situ terletak hati yang mulia. Penyakit hati akan selalu berkecamuk dalam diri manusia. Karena dengan adanya hati yang rusak maka perbuatannya juga akan mencerminkan di dalam realitasnya.

Mengolok-olok etnis dan budayanya, bangsa, jenis kelamin atau mengait-ngaitkan perilaku buruk seseorang dengan agamanya merupakan tanda-tanda kerdilnya jiwa dan ketidak mampuan menangkap saripati agama. Karena itu, hendaknya kita tidak menghakimi orang melampaui kewenangan Tuhan.

Sumber: Kompasiana

Comments (0)

Post a Comment