MITOS DAN TAHAYUL DI SEPUTAR IBADAH HAJI

Posted by mochihotoru | Posted in , , , , | Posted on 9:31:00 PM

Oleh Thobieb Al Asyhar, M. Si.

Sebelum berangkat haji, penulis mendapat pesan dari seorang ustaz. Salah satu pesan yang disampaikan adalah tata hati dan pikiranmu sebelum menunaikan ibadah haji (ziarah ke Tanah Suci). Karena ibadah haji, selain harus berbekal fisik yang kuat, juga harus berbekal niat yang lurus. Hindarkan perilaku dan tindakan yang dapat merusak kesucian perjalanan ibadah. Begitu pesan moral yang disampaikan.

http://yhougam.files.wordpress.com/2009/11/kaaba-and-al-haram-mosque-landmark-1.jpg

Penulis sadar, perjalanan nan jauh di sana dengan segala pengorbanan, jangan sampai sia-sia karena niat dan perilaku yang salah. Beberapa hari sebelum keberangkatan, hati penulis begitu berdegup kencang. Di samping karena harus meninggalkan orang-orang tercinta, juga terbayang rangkaian ibadah haji dan umrah yang harus dikerjakan dengan baik dan benar. Tidak boleh ada amalan (perbuatan) yang berbau mitos dan tahayul. Di samping karena larangan agama, orang Arab sangat keras dan reaktif terhadap kedua hal tersebut.

Umat Islam Arab memang mayoritas penganut Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal atau biasa disebut Mazhab Hanbali. Mereka terkenal penganut paham akidah yang tegas, meskipun kadang mereka terlihat kaku dan kesannya kurang toleran terhadap paham yang berbeda.

Di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, sering terdengar teriakan orang-orang Arab dengan kalimat: hajji hajji, haram haram, atau hajji hajji, ruh ruh… Mereka sangat reaktif ketika melihat orang yang dianggap menyimpang atau mungkin berbeda dengan paham mereka. Meskipun sebenarnya belum tentu salah karena perbedaan mazhab (aliran, denominasi) yang dianut.

Sebagai contoh, ketika ada jamaah haji berdoa dengan suara agak keras, sering ditegur oleh orang Arab, dengan teriakan: “Haram haram! (Dilarang, dilarang!)” Padahal menurut kita biasa saja, seperti doa dan zikirnya jamaah Arifin Ilham bukan? Apalagi jarang-jarang berdoa di depan Kaabah! Sementara menurut orang Arab, doa dengan suara keras dianggap sebagai bidaah. Bagi mereka, berdoa itu pelan dengan peresapan yang dalam agar bisa berkomunikasi dengan Allah.

Memang, selain tidak mengganggu orang lain, berdoa dengan suara pelan juga dapat menjadi lebih khidmat (khusyuk). Akan tetapi, berdoa dengan suara keras tidak serta merta dilarang bukan? Apalagi dikatakan sebagai perbuatan bidaah.

Seharusnya, orang Arab tidak main larang kepada jamaah yang berdoa dengan suara keras dong! Selama substansi doanya benar, why not? Ini menurut kita. Apalagi kita mengerti, yang namanya orang berdoa terkadang sangat ekspresif. Saking terharunya, memang kadang tidak terasa mengeluarkan suara keras. Runyamnya, pada saat asyik-asyiknya berdoa, tiba-tiba ada orang Arab teriak: “hajji, hajji, haram haram! (Sedang berhaji! Dilarang, dilarang!)”

Apa? Haram? Bagi jamaah yang sedang berdoa, tentu jengkel, atau bahkan sebal dengan teriakan itu. Lagi asyik berdoa, kenapa main haram-haram saja?

Ya, fenomena sedikit-sedikit-haram memang lazim terjadi di sana. Baik di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Bahkan mungkin Anda akan mengalami teguran-teguran dari orang Arab di lain masalah dan di lain tempat.

Kalau boleh penulis sarankan, Anda harus bersikap wajar saja. Karena di sana umat Islamnya mayoritas berpaham Wahabi. Cara pandang akidah mereka pun cukup keras dibandingkan dengan rata-rata muslim Indonesia. Apa-apa yang dianggap tidak pernah dilakukan oleh Rasul Allah, dianggap bidaah yang haram dilakukan.

Namun, selama apa yang kita lakukan ada dasar hukum Islam yang memperbolehkan, mengapa harus takut terhadap orang-orang Arab. Apalagi tidak semua orang Arab yang reaktif tidak semuanya ahli dalam bidang agama.

Jika penulis amati, sebenarnya perilaku orang-orang non-Arab selain kita, seperti Pakistan, Bangladesh, India, dan lainnya lebih parah dibandingkan dengan jamaah muslim Indonesia. Bahkan perilaku dan tindakannya bisa dinilai mengarah kepada tindakan bidaah, tahayul, dan khurafat.

Pertanyaannya, bagaimana status hajinya jika dicampur dengan pekerjaan-pekerjaan yang berbau khurafat atau bernuansa syirik? Sayang bukan, membayar biaya perjalanan ibadah haji mahal jika dalam pelaksanaan ibadahnya ternyata ada yang berbau syirik?

Jenis-Jenis Mitos dan Tahayul

Sebelum berhaji, penulis beranggapan bahwa di Tanah Suci tidak akan ada tindak tahayul, khurafat, atau bidaah. Karena di Tanah Suci terkenal dengan gerakan anti perbuatan itu dengan ideologi Wahabi-nya—yang banyak tidak dipahami umat muslim Indonesia. Tapi setelah penulis melihat dengan mata kepala sendiri, ternyata ditemukan banyak perbuatan yang penulis nilai bernuansa syirik sangat mencolok terjadi, meskipun bukan orang Arab lokal yang melakukan. Bahkan perbuatan itu terjadi di sekitar Kaabah. Paling tidak, terdapat beberapa perbuatan tersebut seperti di bawah ini:

Pertama, merajuk-rajuk di depan Kaabah. Bait Allah ini sebenarnya hanya bangunan simbolis yang dimuliakan. Ia adalah simbol pemersatu umat sebagai arah kiblat umat muslim sejagat, dan sebagai titik kisaran orang bertawaf (mengitari Kaabah tujuh kali). Tidak ada keanehan dan keajaiban yang luar biasa di sana. Di dalamnya pun tidak ada apa-apanya, hanya berupa ruang kosong dengan tiga pilar penyangga. Bangunan Bait Suci ini dibangun berupa tembok persegi empat yang terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah (Iwan Gayo, 2006).

http://www.sacred-destinations.com/saudi-arabia/mecca-haram-pictures/kaba-interior-wp-pd.jpg

Menurut sejarahnya, Kaabah yang juga dikenal sebagai Bait al ‘Atiq (Bait Tua) merupakan bangunan pertama di atas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah Yang Tunggal. Namun, banyak orang Islam sendiri yang telah berlebihan melihat, menempatkan, dan memercayai Kaabah. Umat muslim melakukan salat menghadap kiblat itu bukan karena menyembah batu itu, tapi hanya untuk mempersatukan umat Islam, sedangkan yang disembah tetap Allah Yang Mahakuasa.

Seperti orang-orang Pakistan, Bangladesh, India, dan lain-lain—yang lalu diikuti oleh segelintir orang Indonesia yang tidak memiliki pengertian, banyak yang berlebihan ketika mereka berada di depan Kaabah. Ada yang merajuk-rajuk sambil garuk-garuk dinding Kaabah, ada yang mengusap-usap dengan sajadah dan sorban, ada yang menangis-nangis dan meratap-ratap sambil menempelkan pipi seperti merangkul-rangkul. Bahkan ada orang yang dengan sengaja menggunting kain penutup Kaabah (kiswah) dengan gunting. Untuk apa? Konon ada kepercayaan bahwa potongan kain kiswah dapat dijadikan jimat! Karena itu, tutup Kaabah lebih sering digulung hingga orang sulit untuk menjangkau agar tidak ada yang menyalahgunakan. Tapi ada juga yang nekat dan lebih sadis lagi, gantungan untuk pegangan Asykar penjaga Hajar Aswad (Batu Hitam), di sudut tenggara Kaabah, yang bahannya terbuat dari kain, tidak lepas juga digunting.

Menurut pengamatan penulis, perilaku mereka telah mengarah pada perbuatan tahayul, khurafat, dan bidaah. Karena memang apa yang mereka lakukan tidak pernah diajarkan oleh Rasul Allah. Bahkan mungkin mereka dapat dikatakan telah melakukan perbuatan syirik.

Sebenarnya, petugas Syariah dan Asykar di sekitar Masjidil Haram sering mengingatkan mereka dan sering mengusir mereka agar tidak seperti itu. Tapi rasanya mereka kewahalan dan susah mencegahnya, karena manusia datang silih berganti setiap saat.

Inilah mengapa muncul banyak kesalahpahaman dari kalangan nonmuslim yang menganggap bahwa umat muslim sebenarnya menyembah Kaabah yang mereka anggap rumahnya Dewa Bulan—dengan demikian umat Islam dinilai menyembah berhala.

Kedua, mengagungkan Hajar Aswad berlebihan. Di sekitar Kaabah memang terlihat hiruk pikuk jamaah yang ingin mencium Hajar Aswad. Sebenarnya, Nabi hanya menganjurkan saja—untuk menghormati batu yang diletakkan pertama kali oleh Nabi Ibrahim itu. Jika memungkinkan, ciumlah Hajar Aswad. Tetapi jika tidak memungkinkan, maka lakukan dengan isyarat tangan.

http://i1.dripbook.com/t/140000/1721/39/136037_450_height_c08c9c.jpg

Mungkin karena Hajar Aswad diyakini sebagai batu yang berasal dari sorga, sehingga banyak orang yang memaksakan diri untuk menciumnya, meskipun kadang sangat membahayakan keselamatan dirinya. Kadang orang lebih mengutamakan mencium Hajar Aswad daripada meneruskan rangkaian ibadah umrahnya pada saat padat untuk melakukan sai (berlari kecil tujuh kali antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah) dan tahallul (keadaan seseorang yang telah diperbolehkan melakukan perbuatan yang dilarang ketika berihram).

Sering kita dengar pertanyaan pertama kali kepada orang yang baru pulang haji dengan berapa kali mencium Hajar Aswad? Pertanyaannya memang tidak salah. Tetapi pertanyaan itu dapat dijadikan kesimpulan bahwa banyak orang yang berlebihan dalam mengagungkan Hajar Aswad. Bahkan ada orang yang memiliki keyakinan, kalau dapat mencium Hajar Aswad dalam jumlah tertentu akan mendapatkan apa atau keyakinan lain yang tidak pernah diajarkan oleh Rasul Allah.

Keyakinan serta perbuatan-perbuatan terhadap Hajar Aswad seperti inilah yang sering mengundang kesalahpahaman dari kalangan non-muslim dengan menganggap bahwa umat muslim sebenarnya menyembah Hajar Aswad atau menganggap bahwa Tuhannya orang Islam tinggal di dalam batu.

Ketiga, mengumpulkan kerikil. Ini cerita yang aneh bin ajaib! Ada orang yang hobinya mengumpulkan batu kerikil dari setiap tempat yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah umrah dan haji. Misal, ketika mengambil start (miqat) umrah di Bir Ali Madinah, dia ambil kerikil satu buah. Ketika sampai di depan pondokan di Mekah ambil satu buah. Ketika sampai di Masjidil Haram ambil kerikil satu buah. Ketika sampai di Arafah ambil kerikil satu buah. Katika sampai di Muzdalifah ambil kerikil satu buah. Ketika di Mina ambil kerikil satu buah. Ketika di Jamarat ambil kerikil satu buah. Jika telah terkumpul semua sesuai dengan jumlah yang ditentukan, akan dibawa pulang untuk jimat. Lagi-lagi jimat! Mau pergi berhaji atau mau buka praktik perdukunan?

Keempat, tahayul pada air zam-zam. Semua orang mengetahui, bahwa air zam-zam itu adalah air yang penuh dengan berkat. Bisa untuk menghilangkan haus sekaligus bisa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Nabi bersabda yang intinya: air zam-zam bisa bermanfaat sesuai dengan keinginan apa yang diinginkan oleh peminumnya, untuk menghilangkan haus bisa, untuk menjadikan perut kenyang bisa, bahkan untuk menyembuhkan penyakit sekalipun bisa, tergantung niat dan kesungguhan doa yang dipanjatkan kepada Allah Yang Tunggal.

Mungkin karena khasiat itu pula, sehingga ada orang yang bertahayul terhadap air zam-zam. Lagi-lagi seperti orang-orang Pakistan dan Bangladesh, seperti yang penulis ketahui, ada yang melakukan perbutan yang menurut penulis aneh bin ajaib! Kain ihram (laki-laki) yang habis dipakai umrah dan haji, dicuci dengan air zam-zam di sekitar Masjidil Haram sekaligus dijemur di sekitar masjid yang pertama kali mengalami perluasan pada tahun 638 M semasa pemerintahan Umar bin Khattab itu.

Bukan karena mereka kehabisan air di pondokannya, tetapi konon mereka memiliki keyakinan bahwa kain ihram yang dicuci dengan air zam-zam dapat membawa berkat dan kelak akan dijadikan kain kafan pada saat meninggal dunia!

Fenomena tersebut setelah penulis amati, ternyata banyak orang Pakistan, Bangladesh, India yang mengenakan kain ihram yang terbuat seperti kain kafan, yang bukan dari bahan handuk, tetapi dari kain putih biasa (kain teteron) yang biasa untuk membungkus jenazah.

http://www.puja.net/wordpress/wp-content/uploads/2007/05/vastradanam.jpg

Cuci kain ihram dengan air zam-zam itu benar-benar terjadi dan menjadi pemandangan yang mengerikan jika ditinjau dari sisi akidah. Peruntukan air zam-zam kan diminum, bukan untuk mencuci kain dengan keyakinan tertentu. Berkat dari air zam-zam itu terletak pada saat diminum dalam nama Allah, bukan untuk keperluan lain.

Kelima, khurafat di depan makam Nabi. Pebuatan khurafat di depan makam tidak hanya monopoli orang Indonesia ketika berziarah di makam para wali atau orang yang dianggap keramat. Di depan makam Nabi dan para sahabatnya pun perbuatan itu benar-benar terjadi, meskipun dijaga 24 jam oleh Asykar.

Nabi bersabda bahwa ziarah kubur pernah aku larang, tetapi ziarah kubur sebenarnya memiliki manfaat. Manfaat konkret yang sesungguhnya untuk para peziarah sendiri agar selalu mengingat akan kematian yang bisa datang kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, umat percaya diharuskan melakukan tobat sebelum maut menjemput. Begitu kira-kira pesan Nabi.

Ziarah ke makam Nabi dan para sahabatnya sebenarnya bertujuan untuk menyampaikan salawat dan salam kepada beliau sebagai penghormatan kepada beliau sebagai Utusan Allah, serta memanjatkan doa untuk para sahabat Nabi yang lain.

Di samping itu, tempat antara makam Nabi dengan mihrab yang bernama Raudah merupakan tempat yang diyakini mustajab untuk berdoa. Jadi kepentingannya hanya untuk berdoa kepada Allah, baik untuk Nabi dan sahabatnya maupun untuk kepentingan kita sendiri, titik! Tidak ada amalan yang diajurkan untuk merajuk-rajuk dengan mengusap-usap dinding makam seperti yang dilakukan sebagian orang. Bahkan ada juga yang terus terang meminta-minta sesuatu kepada Nabi di sana.

Nabi telah wafat. Kewajiban kita hanya memuliakan sebatas yang wajar dan tidak boleh meminta-minta kepada beliau yang di luar aturan yang digariskan oleh Nabi melalui Alquran dan Hadis.

http://ristorantemystica.files.wordpress.com/2008/08/mohammed_kaaba_1315.jpg

Pada saat ziarah di makam Nabi, kewajiban kita hanya berdoa kepada Allah agar tetap dibimbing supaya menjadi umat Nabi yang lurus. Nabi yang telah wafat telah meninggal tuntunan berupa peninggalan Alquran dan Sunnah (Hadis) yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, jauhilah perbuatan tahayul, khurafat, dan bidaah di sekitar makam Nabi.

Dari berbagai amalan yang berbau mitos dan tahayul di atas, harus dihindari jauh-jauh agar mendapat haji yang mabrur.

*) Penulis merupakan penulis buku-buku keislaman, kini sedang menyelesaikan buku panduan praktis perjalanan ibadah haji bagi yang berjiwa muda.

Catatan:

1 Bidaah atau bidaat adalah cara baru dalam agama yang menyerupai syariat dan dogma dengan maksud dilebih-lebihkan dalam beribadah kepada Tuhan padahal tidak memiliki dasar pedoman dalam syariat, yaitu Kitab Suci dan ajaran nabi. Terkadang istilah “bidaah” disetarakan dengan “sesat”.

2 Tahayul adalah kepercayaan yang tidak memiliki logika yang jelas dan sering menimbulkan rasa takut. Istilah “tahayul” terkadang disamakan dengan istilah “mistik”.

3 Khurafat adalah berbagai kepercayaan yang khayal bahwa selain Allah Yang Tunggal terdapat berbagai kekuatan gaib (tak terlihat) yang dapat menyebabkan keselamatan seseorang dan dapat pula mendatangkan celaka.

Sumber: bimasislam.depag.go.id, dengan perubahan

(www.sammy-summer.co.cc)

Comments (0)

Post a Comment